KORBAN PENCULIKAN TERHADAP MAHASISWA AKTIVIS MAHASISWA TAHUN 1998

 

 

Kesaksian Mugiyanto

 

 


Mugiyanto lahir di Jepara, Jawa Tengah pada tanggal 2 November tahun 1973. Ketika diculik tahun 1998, dia adalah mahasiswa Sastra Inggris UGM Yogyakarta. Setelah dibebaskan ia aktif di Ikatan Keluarga Orang Hilang Indonesia (IKOHI) yang mulanya diinisiasi oleh Munir yang kala itu menjadi ketua KontraS. Mugiyanto menjadi ketua IKOHI hingga sekarang sekaligus sebagai presiden federasi penghilangan Paksa Asia (AFAD, Asian Federation Againts Involuntary Disappearances).

 

Mugiyanto memberi kesaksian Kasus Penculikan Aktivis Mahasiswa 97/98.

 

“Terima kasih telah diberikan waktu, saya adalah salah satu dari korban yang diculik militer, Kopassus, tahun 1998 dan selamat. Ada 24 orang yang diculik Kopassus pada tahun ‘97-98. Dari 24 orang yang diculik, ada 9 orang dilepaskan dan saya satu dari 9 orang yang dilepaskan. Saya aktivis mahasiswa dan oleh Orba apa yang kami lakukan dituduh subversif.

 

Tanggal 3 Maret ’98, saya diambil dari rumah kontrakan Rumah Susun Klender, saya dibawa ke Duren Sawit dan Koramil Jakartra Timur, ke tempat dimana mengalami penyiksaan. Cuma pakai celana dalam, kaki dan tangan ditutup, disetrum, ditanya mengapa kami ingin Dwi fungsi ABRI dicabut, mengapa mau Timor Leste merdeka, termasuk dipertanyakan hubungan dengan Gus Dur, Amien Rais dan Megawati. Di tempat penyiksaan saya baru sadar kalau saya tidak sendirian, ternyata ada orang lain yang mengalami penyiksaan. Dari suara saya kenal, Nesar Patria dan satu kawan lain, Aan Rusdianto. Mereka selamat namun sekarang bergabung dengan Partai Prabowo.

 

Setelah dua hari dari tempat X, berhenti di beberapa tempat, di Kodam Jaya, di Jakarta Timur diinterogasi, dibawa jalan lagi, mata ditutup diancam dibunuh dan dibuang di jalan tol dan kemudian diturunkan di Polda Metro Jaya dan ditahan di sana. Saya diperiksa dari jam 5 sampe 11 malam, dikenakan pelanggaran UU Subversif. Di situ, saya kenal dekat dengan Munir dan dia jadi pengacara saya. Ketakutan dan trauma saya hilang ketika saya tahu dibesuk oleh Ester dan Munir, ketika saya masih di Polda. Itu yang saya alami selama tiga bulan di Polda Metro.

 

Saya tahu bahwa yang hilang tidak hanya kami, mereka bilang masih ada yang lain, ada Widji Thukul dan yang lain masih hilang. Setelah bekerja di KontraS pada tahan‘98 baru dapat informasi bahwa tempat penyekapan kami adalah di Markas Kopassus di Cijantung, hal itu sudah diakui oleh Prabowo, namun mereka bilang hanya menculik 9 orang.  Saya bilang bahwa itu tidak benar karena kawan yang lepas itu sempat bertemu di Markas Kopassus dan berbicara dengan teman yang belum kembali hingga sekarang, Para pelaku sekarang sudah mulai konsolidasi, bukan hanya diantara pelaku tapi juga mengkonsolidasi korban, ini penting bukan hanya bagi saya dan korban tapi juga bagi Indonesia.

 

Saya hargai korban yang memberi kesaksian dan dari kesaksian yang diberi mereka tidak hanya bahas dirinya tapi tentang bangsa ini. Beda sekali dengan SBY yang hanya bicara dirinya dan keluarganya. Banyak yang mencemooh saya, apakah masih ada harapan buat saya? Tapi yang penting adalah kebenaran tetap harus diungkapkan.