RACUN HANYA MELUMPUHKAN JASAD MUNIR

 

 

Kesaksian Choirol Anam untuk Munir

 

Munir lahir pada tanggal 8 Desember 1965 di Malang. Ia aktif dalam isu-isu hak asasi manusia masih kuliah hukum Universitas Brawijaya. Setelah mendapat gelar sarjana hukum ia bekerja untuk Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) Kantor Jawa Timur. Selama tahun 1990-an ia menjadi penasihat hukum untuk sejumlah korban kekerasan dan represi aparat negara. Ia kemudian memimpin Divisi Operasional YLBHI.

 

Munir pertama kali muncul dalam kampanye yang terjadi pada akhir 1997 dan awal ‘98 ketika dua lusin aktivis pro-demokrasi diculik. Pada puncak kampanye ini, Munir mendirikan organisasi hak asasi manusia KontraS (Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan) dengan dukungan dari 12 LSM pro-demokrasi termasuk YLBHI. Awalnya Munir menjadi Koordinator Komite Kerja Kontras, kemudian ia memimpin Dewan Pengurusnya.

 

Pada tanggal 7 September 2004, Munir meninggal dalam penerbangan dari Indonesia ke Belanda. Otopsi yang dilakukan oleh Institut Forensik Be­landa menemukan kandungan arsenik dengan tingkat mematikan didalam tubuhnya.

 

Choirol Anam mewakili Komite Aksi Solidaritas untuk Munir (KASUM ) memberi kesaksian tentang advokasi dan kampanye yang dilakukan KASUM dalam penanganan kasus Munir.

 

 


“Setiap malam saya, Panca, Usman, Haris dan Mufti yang kurang lebih seumuran di Tebet sana, menikmati diskusi dengan Cak Munir. Dia tidak pelit dengan informasi. Waktu dia mau sekolah pun antara merelakan atau tidak karena momen setiap malam itu. Saya mewakili KASUM untuk menceritakan apa yang tidak terungkap di publik ketika mengadvokasi kasus ini, tentang orang-orang yang meninggal dunia disekitar pengungkapan kasus Munir, walau belum bisa dibuktikan secara legal tapi bisa ditarik benang merahnya. Ada Dokumen bahwa Pollycarpus sudah di Singapura tanggal 5 dan 6 [September 2006], paginya dia balik ke Indoneisa, malam [tanggal] 6 dia ke Singapura bersama Munir.

 

Kami menemukan orang yang menjemput Polly di Singapura meninggal tidak wajar. Ada pertemuan di ruang pertemuan B. Ada sketsa, ada perencanaan di situ. Orang yang memberi informasi adalah purnawirawan, baru pensiun salah satu anggota mereka, dia minta ketemu di resepsi pernikahan, tapi kami tidak pergi. Sekian hari kemudian kita ketahui dia meninggal. Orang yang mengundang Cak Munir, Wija Subijakto, dia deputi 7 intelijen Angkatan Laut, dia jago informasi, Cak Munir tidak mau datang. Dari situ kita telusuri bahwa BIN terlibat. Kami juga mendapatkan informasi dari seorang teman, untuk mendapatkan dokumen telpon yang bisa jadi dokumen hokum. Hanya Wija yang bisa dan ternyata Wija meninggal dunia, katanya serangan jantung. Dia bisa membaca bagaimana komunikasi itu ada.

 

Catatan publik Pollycarpus bicara dengan Muchdi, ada 40 kali, tapi dalam catatan tim TPF lebih dari 100 kali. Yang meninggal mendadak terakhir adalah Ongen, dia adalah orang yang mengetahui posisi duduk antara Ongen, Poli dan Cak Munir dan diduga tahu bagaimana racun masuk dalam Cak Munir. Setidakmya ada 4 orang meninggal terkait kematian Cak Munir. Terakhir yang tidak terkonfirmasi adalah Kolonel Budi, dia memberi kesaksian Poli masuk intelijen negara dan Direktur Garuda. Budi adalah Direktur 1 di bawah Deputi 3. Dia ada di Pakistan katanya, masih di sana, dan ada yang bilang sudah men­inggal. Kami buka di sini untuk melihat banyak dilakukan pelaku untuk menutup jejak. Tidak hanya terjadi pada Orba tapi sekarang terjadi pembungkaman orang dengan mengambil nyawanya.

 

KASUM menjadi contoh cara advokasi publik dan itu yang penting, ada tukang becak yang tiba-tiba kampanye, ada tukang ikan di Jatinegara sana yang tiba-tiba kampanye dengan cara sendiri, KASUM bertahan 6 tahun tanpa timbul tenggelam dan ini bisa jadi best practice bagi kita semua.

 

Ketika TPF berakhir masa kerjanya, kita putuskan gugat Garuda untuk menjaga tensi informasi di masyarakat tetap terjaga, di acara Kick Andy tema Munir lebih dari 3 kali, Koran Jawa Pos hampir tiap hari ada tema tentang Munir. Kalau ambil contoh baik tentang manajemen kampanye, KASUM baik dalam agar kebenaran ini terjaga terus. Jargon kita hari ini adalah membangun Sahabat Munir, sahabat yang berani dan tidak melupakan masa lalunya. Kami selalu meyakini bahwa tidak ada jalan yang buntu, yang ada kita harus berpikir keras untuk menembus itu semua.

 

Informasi pengadilan kasus Munir:

 

Januari 2008, mantan pilot Garuda Pollycarpus Budihari Priyanto dijatuhi hukuman 20 tahun penjara oleh Mahkamah Agung karena terbukti memberikan Munir minuman yang telah dicampur racun saat transit di Bandara Changi Singapura. Pengadilan juga menghukum Indra Setiawan, mantan kepala nasional Garuda, satu tahun penjara karena perannya dalam kasus yang sama. Pada bulan Juni, polisi menahan Muchdi Purwoprandjono, jenderal purnawirawan bintang dua, eks Deputi V BIN sebagai tersangka dalam kasus pembunuhan Munir tanpa merinci perannya pada saat pendakwaan. Jaksa menuntut Muchdi dengan penjara 15 tahun. Pada 31 desember 2008, Pengadilan Jakarta Selatan menjatuhkan vonis bebas atas Muchdi.Oktober 2013, untuk kedua kalinya Mahkamah Agung mengabulkan pengajuan PK oleh Pollycarpus dan memotong masa tahanannya menjadi 14 tahun penjara, berkurang 6 tahun penjara dari putusan awal yaitu 20 tahun penjara.