DITUDUH SEPARATIS, PERDAMAIAN TIDAK TERWUJUD


 

 

Kesaksian Ferdinan Marisan untuk John Rumbiak

 

John Rumbiak lahir di Pulau Biak, Papua pada 1962, Ia kemudian mendirikan Lembaga Studi Advokasi dan HAM di Jayapura. Dibawah supervisi John Rumbiak, ELSHAM telah menjadi baris terdepan mengerjakan advokasi dan pelaporan HAM. Pada tahun 2003, John Rumbiak melakukan siaran pers di LBH Jakarta tentag keterlibatan Kopassus dalam Perisriwa penembakan di Tembaga Pura, Timika. Kemudian John Rumbiak berangkat ke Amerika dan baru tahun 2005, pulang ke rumahnya, dan menderita stroke hingga sekarang.

 

Sebelum sakit, John Rumbiak aktif melakukan kampanye pelanggaran HAM di Papua di Amerika dan Australia. John Rumbiak dan Elsham kemudian digugat oleh TNI dengan tuduhan melakukan pencemaran nama baik TNI terkait laporan Elsham tentang keterlibatan Kopassus dalam Kasus Penembakan di Tembaga Pura, Timika tahun 2002.

 

Ferdinan Marisan, Direktur Elsham bersaksi tentang Sosok John Rumbiak dan dampak yang dialami Elsham pasca gugatan Pangdam atas Elsham terkait Kasus Tembaga Pura.

 

“Saya kenal John Rumbiak sejak tahun ‘95, ketika masih mahasiswa di Uncen. Tahun ’94, terjadi penembakan terhadap pendeta di Gereja di Timika waktu perayaan Natal, dan John Rumbiak menginisiatif untuk melakukan investigasi. Dia mulai menulis kejadian itu dan laporan diserahkan kepada Komnas HAM tahun ’95. Pada waktu bertemu John pertama kali, dia bilang, “Kalian kalau mulai membantu rakyat kecil maka nyawa jadi taruhan, ditahan dan akan dibunuh.”

 

Tahun ’95, kami demo dan meminta pemerintah mengusut kasus penembakan tersebut dan terbukti dibawa ke Pengadilan Militer. Pelakunya ada yang dihukum ada yang bebas dan ada yang pangkatmya diturunkan. John lalu membentuk Lembaga Elsham Papua, bekerja pertama untuk kasus penembakan masyarakat sipil di Timika, tahun ’96, dimana terjadi penyanderaan beberapa peneliti oleh Kelly Kwalik dan waktu itu pembebasan dilakukan oleh Kopassus yang dipimpin Prabowo. Saya ingat mereka mengecat helikopter dengan palang merah dan mereka menembaki masyarakat. Kami bekerja di kantornya John yang kecil, dan dia tidak mau pulang ke rumah karena setiap malam orang datang ke rumah, mengenakan seragam dan tidak mengetuk rumahnya.

 

Tahun 2000 terjadi pembunuhan terhadap Theys, John melakukan investigasi. Tahun 2002, penembakan warga Amerika di Tembaga Pura, kami bersama John melakukan investigasi, dan dari kesaksian masyarakat menyebutkan bahwa ada Kopassus yang terlibat. John lalu membuat siaran pers di LBH Jakarta.

 

Karena John dianggap melakukan tidakan tidak benar maka dia ditetapkan sebagai tersangka, Pangdam bilang Kopassus tidak terlibat, padahal jelas indikasi keterlibatan Kopassus di lapangan. Tahun 2003, Elsham dibawa ke Pengadilan dituduh oleh Pangdam mencemarkan nama baik Pangdam dan Kopassus. Yohanes Bonay sebagai ketua Elsham Papua yang menghadiri sidang-sidang itu, karena John belum pulang dari Amerika. Elsham dituntut minta maaf kepada Pangdam dan Kopassus dan membuat pernyataan di media bahwa TNI tidak terlibat dalam penembakan di Tembaga pura. John sendiri kampanye di Amerika dan Australia tentang kasus itu.

 

Pada 24 Februari 2005 sampai 25 Februari pagi, John Rumbiak diinterogasi FBI di Amerika, ketika dia pulang sampai di rumahnya dia kena stroke. Dia tinggal di New York untuk pemulihan dan sampai sekarang dia tidak pulih. Saudara perempuannya mendengar John jatuh sakit, akhirnya ikut sakit dan satu minggu kemudian meninggal dunia. Akibat kepada lembaga, tahun 2003-2009 Elsham dicap lembaga Separatis di Papua dan mendukung Papua Merdeka. Kami percaya, apa yang kami kerjakan itu suatu kebenaran dan tidak ada yang bisa memotong perjuangan kami di Tanah Papua. Kami tetap melakukan advokasi dan ke depan berharap pemerintah tidak lihat LSM HAM dengan sebelah mata, kalau negara masih lihat kami sebagai separatis maka perdamaian di Papua tidak akan terwujud.”