HANYA ADA SATU KATA, “LAWAN”

 

 

Kesaksian Wahyu Susilo untuk Wiji Thukul

 

Wiji Thukul atau Widji Widodo dilahirkan di Sorogenen, Solo, tanggal 26 Agustus 1963 dari keluarga tukang becak. Aktif berkesenian mulai sejak SMP ketika bergabung dengan Sanggar Teater Jagat. Lulus dari SMP, Thukul melanjutkan studi di SMKI (Sekolah Menengah Karawitan Indonesia) sampai kelas II. Thukul juga menulis puisi. Puisinya pernah dibacakan di Radio PTPN Solo, dimuat di Mutiara, NOVA, Swadesi, Inside Indonesia dan Suara Merdeka. Pergumulannya dengan kesenian kerakyatan semakin mendalam ketika mulai mengembangkan aktivitas kesenian di kampung bersama teman-temannya yang kebanyakan kaum buruh. Dia mulai membaca puisi di kampus, di gedung kesenian dan ngamen di bis kota bahkan di aksi-aksi massa. Dia sempat pula berjualan koran, jadi calo karcis bioskop, dan menjadi tukang plitur di sebuah perusahaan meubel. Menikah dengan Sipon rekannya satu teater pada tanggal 23 Oktober 1988 dan dikaruniai dua orang anak, Fitri Nganthi Wani dan Fajar Merah.

 

Represi aparat mulai dirasakan ketika Thukul bersama rakyat di kampungnya memprotes pencemaran pabrik tekstil PT. Sari Warna Asli. Dalam aksi ini Thukul sempat ditangkap dan dijemur oleh aparat Polresta Surakarta.. Thukul kemudian bergabung dalam Jaringan Kerja Kesenian Rakyat (JAKER), sebagai salah satu organ dari Partai Rakyat Demokratik (PRD). Dalam satu aksi buruh PT. Sritex pada Desember 1995, Thukul dianiaya oleh aparat hinga salah satu matanya hampir buta.

 

Ketika pecah peristiwa penyerangan kantor Partai Demokrasi Indonesia (PDI), pada 27 Juli 1996, di Jalan Diponegoro Jakarta, PRD dianggap terlibat dalam peristiwa tersebut. Selain itu PRD juga dianggap sebagai organisasi yang berdasarkan komunisme, sehingga beberapa aktivisnya ditangkap oleh Polisi dan Thukul menjadi salah satu orang yang dijadikan sasaran penangkapan. Sejak saat itu Thukul menjadi buronan.

 

Thukul hidup berpindah-pindah dengan bantuan kawan-kawannya di berbagai tempat, di Solo, Salatiga, Jogjakarta, Jakarta bahkan sempat Pontianak. Terakhir Thukul bertemu dengan keluarganya adalah pada Desember 1997 ketika anaknya yang kedua akan merayakan ulang tahun yang ketiga. Kontak terakhir dengan istrinya pertengahan tahun 1998. April 2000, hilangnya Thukul dilaporkan oleh keluarganya ke KontraS.

 

Berikut Kesaksian Wahyu Susilo, adik Widji Thukul, dalam acara Dengar Kesaksian yang dilaksanakan di Jakarta pada 29 November 2013.

 

“Ancaman terhadap Widji Thukul sudah lama berlangsung, sebelum penculikan ’98, sejak kasus Kedung Ombo tahun ’89, karena saya dan kakak tinggal satu rumah di Jogja bersama teman Jogja, Solo. Pertama kali Widji Thukul ditangkap tahun ’90 , kasus PT Sariwarna Asli di Solo yang mencemari sungai dan mencemari warga. Kakak saya mengorganisir masyarakat dan protes di depan pabrik. Lalu ditangkap dan diinterrogasi semalaman. Ditangkap lagi tahun ’93, waktu itu terjadi kasus pelecehan seksual buruh perempuan di Karang Anyar. Waktu datang ke DPRD kami bersama. Setelah didampingi pengacara, baru dibebaskan pada malam hari.

 

Pengawasan tidak hanya secara fisik, korespondensi juga diawasi. Satu kali dapat kiriman dari Belanda, saat tiba di rumah kiriman sudah buka. Tahun ’95, ketika peringatan Indonesia Emas, kakak dengan JAKER dari seluruh Indonesia, kami peringati Indonesia Cemas pada Agustus ’95, rumah kami digerebek dan lukisan anak-anak dirampas. Saya kira yang paling membuat fisik Widji Thukul sakit adalah ketika demo buruh pada desember ‘95 , PT Sritex pemasok baju untuk militer dan ABRI, di situ dia dipopor senapan dibagian mata sampai hampir buta. Tapi tidak menyurutkan perjuangannya.

 

Tragedi pertama datang ke keluarga kami ketika dia dinyatakan sebagai DPO dalam penyerbuan kantor PDI [27 Juli 1996], Agustus ’96, Thukul agar bisa menyelamatkan diri, dia pindah dari kota ke kota. Mba Sipon (isteri Widji Thukul), diinterogasi, diintimidasi, Wani (anak perempuan Widji Thukul) di sekolah diolok-olok sebagai anak PKI dan Fajar (anak laki-laki Widji Thukul) yang seharusnya setiap hari bertemu ayahnya, dia tidak ingat ketemu ayahnya.

 

 


Itu juga saya alami pada akhir Agustus ‘96 ditangkap BIA di kantor Solidaritas Perempuan, diinterogasi selama 24 jam, ditelanjangi, dimasukan ke kolam dipukul pake ember, disetrum kemaluan saya. Selama 24 jam saya mengalami itu, tapi beruntung waktu itu kakak saya selamat menyeberang ke Kalimantan. Ini menyebabkan ketika kakak saya tidak bisa bekomunikasi sekitar Maret atau April ’98, kami dalam keadaan ragu, apakah dia masih dalam kondisi bersembunyi atau dihilangkan. Ada optimisme pada tahun ’98, ada tapol yang dibebaskan. Kami masih menunggu Thukul pulang. Lalu ada investigasi, semua kontak menyatakan Thukul hilang.

 

Deklarasi Thukul hilang baru tahun 2000. Tidak ada perhatian sama sekali atas kasus-kasus ini, hak sipilnya terabaikan, hak ekonomi juga terabaikan. Berulang kali Mbak Sipon mengajukan pinjaman tapi semua harus atas nama suami, Wani ditanya ketika ambil rapor, “Bapakmu dimana?” tidak bisa jawab karena negara tidak memberi status di mana orang yang hilang saat itu. Ini implikasi yang dialami keluarga Widji Thukul sampai sekarang.”

 

 

Seumpama bunga

Kami adalah bunga yang tak

Kau hendaki tumbuh

Engkau lebih suka membangun

Rumah dan merampas tanah

Seumpama bunga

Kami adalah bunga yang tak

Kau kehendaki adanya

Engkau lebih suka membangun

Jalan raya dan pagar besi

Seumpama bunga

Kami adalah bunga yang

Dirontokkan di bumi kami sendiri

Jika kami bunga

Engkau adalah tembok itu

Tapi di tubuh tembok itu

Telah kami sebar biji-biji

Suatu saat kami akan tumbuh bersama

Dengan keyakinan: engkau harus hancur!

Dalam keyakinan kami Di manapun

[WIJI THUKUL]