API MARSINAH TAK TERPADAMKAN

 

 

 


Kesaksian Marsini untuk Marsinah

 

Marsinah lahir tanggal 10 April 1969. Dia buruh di pabrik arloji PT Catur Putra Surya (CPS)sejak tahun 1991. Karena merasa adanya ketidakadilan diantara buruh lokal dan buruh dari Tiongkok menyangkut jumlah gaji dan jam kerja, Marsinah melakukan protes. Karena itu ia hampir dikeluarkan. Dia ditemukan tewas di Hutan Wilangan, Nganjuk pada 8 Mei 1993 dalam posisi melintang, sekujur tubuhnya penuh luka memar bekas pukulan benda keras. Kedua pergelangannya lecet-lecet, dalam keadaan terikat. Tulang pang­gulnya hancur. Di sela-sela pahanya ada bercak-bercak darah. Pada bagian yang sama menempel kain putih yang berlumuran darah. Mayat Marsinah segera dibawa ke RSUD Surabaya untuk dilakukan autopsi. Dokter forensik RSUD Surabaya menyimpulkan bahwa Marsinah tewas akibat penganiayaan berat.

 

Pada tanggal 30 September 1993, Badan Koordinasi Stabilitas Nasional dan Daerah (Bakorstranasda) Jawa Timur membentuk Tim Terpadu untuk melakukan penyelidikan dan penyidikan kasus pembunuhan Marsinah. Penanggung jawab tim adalah Kapolda Jawa Timur dan Komandan Satgas Kadit Reserse Polda Jawa Timur, yang beranggotakan penyidik/penyelidik Polda Jawa Timur serta Den Intel Brawijaya.Tim tersebut secara diam-diam menangkap para petinggi PT CPS. Mereka diinterogasi serta mengalami penyiksaan fisik maupun mental di markas Kodam V Brawijaya. Mereka dipaksa mengaku telah membuat skrenario dan menggelar rapat untuk membunuh Marsinah. Pemilik PT CPS, Yudi Susanto, juga termasuk salah satu yang ditangkap. Setelah18 hari kemudian, mereka telah mendekam di tahanan Polda Jawa Timur dengan tuduhan pembunuhan Marsinah. Pengacara Yudi Susanto mengungkap adanya rekayasa oknum aparat Kodim untuk mencari kambing hitam pembunuh Marsinah.

 

Para aktivis pada waktu itu turut melakukan kegiatan kampanye dan pendampingan terhadap kasus Marsinah. Munir dan beberapa LSM lain turut serta dalam investigasi independen dan kampanye untuk penuntasan kasus Marsinah. Mereka membentuk KSUM (Komite Solidaritas Untuk Marsinah). KSUM mendapatkan berbagai intimidasi oleh Bakorstanasda, agar KSUM meng­hentikan kegiatannya. Namun advokasi terus dilakukan oleh KSUM, termasuk mengawal pengadilan rekayasa atas orang-orang yang ditangkap oleh Tim Terpadu Bakorstanasda.

 

Marsini, kakak perempuan Marsinah memberi kesaksian tentangg peristiwa pembunuhan Marsinah dan dampak yang dialami keluarga mereka.

 

“Saat itu saya hamil 8 bulan. Sejak 10 Mei 1971 saya dan Marsinah ditingggal ibu karena meninggal dunia. Karena ibu meninggal dunia, saya terpisah dengan ayah, bersama adik tinggal di rumah nenek. Sewaktu kelas 5 SD, saya pindah ke rumah Paman, dan disusul oleh Marsinah ketika saya duduk di kelas 3 SMP. Marsinah kemudian melanjutkan sekolah di SMP Negeri dan saya di SPG Negeri, walau nenek berat membiayai. Sesudah saya lulus saya pindah ke kawasan industri di Surabaya, lalu adik saya ikut juga.

 

Awalnya dia diterima bekerja di perusahaan lain, tetapi kemudian pindah ke CPS, sebuah PT yang memproduksi arloji. Tahun 1991, ada masalah di di tempat kerjanya, ia hampir dikeluarkan, namun adik saya ada dasar kuat akhirnya tidak dikeluarkan. Di situ dia diperlakukan tidak sama terutama merasakan perbedaan, kalau tenanga kerja dari Cina, kerja ringan upah tinggi, sementara yang tenaga di sini, upah rendah sementara tenaga diperas. Dia mau minta bantuan ke LBH. Saya nasihati agar tidak melanjutkan rencananya. Setelah bercerita dengan kasus yang saya pernah alami betapa sulitnya melawan perusahaan dan kalah, akhirnya dia tidak melanjutkan niatnya. Dia lalu mau melanjutkan sekolah hukum.

 

Tahun 1992, saya diangkat menjadi guru di desa terpencil, adik saya tetap di Surabaya. Saat itu ada pengembangan pabrik CPS di Porong. Waktu adik saya pulang pada Januari ’93, saya sempat menanyakan, kenapa bisa buka cabang di Porong ?. Dia bilang, pabrik itu buka cabang untuk memproduksi barang yang bisa duplikat jam-jam merek terkenal. Adik saya ditemukan di gubuk di Wilangan, Nganjuk, Polisi datang dan bertanya, “Mana baju terakhir?” Mestinya Polisi yang tangani karena itu baju itu barang bukti. Keluarga menjadi sasaran utama untuk diselidiki, juga Pak De saya, termasuk orang tuduhan juga. Setelah itu pernah jam satu malam ada intel memberitahu agar dibongkar makamnya. Makam adik saya dibongkar tiga kali, dan tahlilan tiga kali juga Saya memang berambisi agar adik saya diketahui pembunuhnya dan ditangkap.

 

Ada salah satu Polisi datang dengan temannya, ada surat ijin saya tandantangani begitu saja, lalu ada aparat datang dan saya disorongi tulisan, saya bilang ini surat apa? Dibilang kelanjutan surat keroncong, jadi saya tanda tangan aja kertas kosong, sampai sekarang berpikir apa itu dipakai untuk merekayasa peristiwa adik saya? Malam hari saya didatangi lagi oleh aparat, saat itu pembantu tidur dan saya bangunkan, saya bilang kalau ada apa-apa, tolong lompat lewat jendela. Kesedihan saya karena saya sendirian melewati semua ini, saya dari kecil hidup karena belas kasih keluarga, saya mencari hidup sediri dan menemukan kondisi adik saya sendiri dan itu goncangan bagi saya.