KASUS UDIN HAMPIR KADALUWARSA, BELUM SELESAI

 

 

Kesaksian Marsiyem Untuk Udin

 

Fuad Muhammad Syafruddin yang akrab dipanggil Udin lahir di Bantul, Yogyakarta, 18 Februari 1964 – Meninggal karena dianiaya oleh orang tak dikenal di depan rumah sewaannya, di Dusun Gelangan Samalo, Parangtritis Km 13 Jalan Yogyakarta, 16 Agustus 1996. Udin adalah wartawan Harian Bernas, Yogyakarta. Sebelum kejadian ini, Udin sering menulis artikel kritis terhadap kebijakan pemerintah Orde Baru dan militer. Ia menjadi reporter di Harian Bernas sejak 1989.

 

Tanggal 13 Agustus 1996 pada sekitar 10:40 malam itu, Marsiyem sedang menyetrika. Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu oleh seseorang, setelah pintu dibuka ditanya keperluannya. Orang tak dikenal itu menjawab bahwa dia ingin menitipkan sepeda motor kepada Udin. Tanpa curiga, Marsiyem memberitahu suaminya yang sedang di depan komputer. Udin bertemu dengan tamunya dan Marsiyem melanjutkan menyetrika. Tak lama kemudian, ia mendengar suara pukulan, ia kemudian mendekati tempat asal suara. Dan ternyata Udin, suaminya, jatuh di lantai. Berlumuran darah. Berikut kesaksian Marsyiem tentang peristiwa pembunuhan Udin dan dampak yang dialami keluarga mereka hingga sekarang.

 

“Kejadian sudah 17 tahun yang lalu terjadi di Jogja, pada saat itu Pak Udin sering menulis berita di wilayah Bantul mengenai pejabat Bantul. Jadi untuk masalah ini saya sempat tanya Mas Udin, “Kenapa berita ini begitu kerasnya,” tapi Pak Udin bilang, “Memang kenyataan seperti itu jadi mau apa lagi kalau seperti itu.” Karena beberapa hari ada intimidasi semacam itu, janggal dalam kehidupan saya.

Saya tanyakan lagi karena mau digugat Pemda Bantul, mau diajukan ke Pengadilan, saya takut, tapi Pak Udin jawab, “Karena ini kenyataan sampai kapan pun akan saya bela walau sampai mati”.

 

Setelah Pak Udin meninggal teror demi teror menghantui kehidupan kami terutama dari Polisi, dia selalu datang ke rumah, selalu menanyakan hal itu, kalau saya menjawab dengan berita Pak Udin, dia mengelak. Ada polisi yang bilang, “Mbak ini masalah biasa ini masalah perselingkuhan.” Sampai saat ini, Polisi menyakini ini masalah perselingkuhan. Betapa sakitnya hati kami dengan upaya itu. Padahal Pak Iwik sudah menarik kembali pengakuannya. Teman-teman wartawan kerja keras mengikuti temuan polisi, bahkan ada pembentukan TPF untuk masalah ini, tapi Polisi bersikeras itu masalah perselingkuhan. Jaksa menuntut bebas.

 

Saat ini sedang pengadilan pra peradilan di Yogyakarta. Cuma yang kami butuhkan kenapa Polisi begitu? Memang berat menjalani peristiwa ini, tapi banyak dukungan yang membuat saya kuat. Saya harapkan hanya kebenaran saja jangan sampai hal ini direkayasa lagi. Kasus Udin saaat ini sedang diangkat lagi dalam persidangan pra peradilan di Jogja. Saat ini batas waktu kasus tersebut hampir 18 tahun, dan jika lebih dari waktu tersebut kasus ini sudah tidak bisa dituntut secara hukum. Kapolda DIY yang sudah berganti sekitar 15 kali, belum juga bisa melengkapi berkas penanganan kasus ini. Sementara berdasarkan surat yang diterima AJI Indonesia pada 15 Agustus 2012 dikirim oleh Kepolisian atas kasus pembunuhan Udin dikirim oleh AJI Indonesia pada tanggal 30 Juli 2012, Polda DIY memberikan penjelasan berikut, pada poin empat, polisi Yogyakarta masih yakin bahwa Dwi Sumaji alias Iwik adalah pelaku utama. Kemudian menyatakan pada poin berikutnya bahwa hasil penyelidikan yang dilakukan oleh Polda DIY belum mendapatkan bukti signifikan. Dan telah mencoba untuk mengirim surat resmi ke pengadilan militer Semarang untuk meminta salinan hasil pemeriksaan Sri Roso Sudarmo. Kemudian pada 30 Agustus 2012 Yogyakarta polisi mengirim surat sekali lagi untuk AJI Indonesia kembali jawaban yang sama dengan surat yang disampaikan oleh Indonesia AJI menyatakan bahwa sejak rilis Iwik, polisi telah membentuk tim untuk menyelidiki kasus ini dan sampai bahwa saat ini masih belum menemukan bukti kuat yang mengarah kepada pelakunya.

 

Saya cuma berharap kalau polisi tidak bisa mengungkap kasus ini, bikin saja surat keterangan dihentikan atau dilanjutkan. Biar anak-anak saya tidak trauma dengan kejadian ini kasihan mereka baru 2 tahun waktu kejadian.