TAMBANG NIKEL, LAPANGAN GOLF MENGGUSUR SAYA KE PENJARA

 

 

Kesaksian Jardin Kololi

 

Jardin Kololi lahir di Dongi, 17 Agustus 1948, berasal dari suku Karonsie’ Kampung Dongi, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Pada tahun 1950, Pak Jardin bersama anggota komunitasnya meninggalkan Kampung Dongi karena merasa terancam keselamatannya sehubungan dengan terjadi pemberontakan DI/TII pada waktu tersebut. Lalu dilanjutkan dengan peristiwa G 30S, membuat warga Dongi trauma dan takut untuk kembali. Namun pada tahun ‘67 ketika Pak Jardin dan kawannya mencoba kembali untuk melihat kondisi kampung ternyata PT. Inco dari Kanada sudah mulai masuk dan mengelola tambang nikel.

 

“Pada tahun 1967 wilayah adat Dongi oleh Pemerintah diberikan ijin kepada PT. International Nickel Indonesia (PT INCO) Tbk, melakukan penambangan bijih nikel melalui kontrak tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan masyarakat adat Dongi sebagai pewaris wilayah adat tersebut. PT. Inco mengatakan bahwa tanah kami sudah mereka bayar dan masuk dalam kontrak karya mulai ’68. Kami tidak bisa buat apa-apa, kami takut apalagi ada korban peristiwa ‘65, sehingga kami diam.

 

Pada Mei ‘99 kami coba tanya ke pemerintah dan dihalangi. Ketika saya datang ke Dongi, sudah digusur semuanya, pada tahun ‘67 dibakar gerombolan DI/TII, dan tahun‘78 sudah digusur PT. Inco dan dijadikan lapangan golf. Pada 2002 Mei, kami mengajak beberapa teman, kami bertindak menduduki lahan, tapi yang terjadi kami menjadi bulan -bulanan polisi dan dibawa ke sana kemari, diinterogasi dan puncaknya tanggal 17 April 2003, Kapolsek Nuha Let 1, Abdul Tamimi, datang dengan anggotanya bersenjata lengkap dan perintah tembak ke kami.

 

Saya sedang mencangkul, dia datang. Saya buka baju dan bilang, “Siap Pak ditembak saya mati, siap membela hak anak cucu saya daripada mati ditembak karena korupsi,”

 

Saya disiksa, diseret dan dibuang ke mobil polisi lalu dibawa ke kantor security terdekat. Seorang kemenakan saya, perempuan, berdua kami diintimidasi dari pagi sampai jam empat sore, dan kami berdua pulang berjalan kaki. Saya dipanggil kembali, diinterogasi, selama 3 bulan saya dimasukan ke tahanan tidak pernah ditanya apa kesalahan. Terakhir saya ditangkap dengan tuduhan melawan pemerintah, melawan PT. Inco dan menyerobot tanah perusahaan. Bagaimana bisa? Ini tanah saya. Terima kasih kepada Walhi dan Ibu Mai, saya tidak tahu bagaimana proses hukum. Saya ditanya Camat apa ada sertifikat? Saya bilang saya punya nenek moyang tidak tahu sertifikat dan beberapa tahun kami tidak pernah diberi kesempatan hidup layak. Terakhir saya dipanggil dan disuruh keluar dari lokasi.

 

Saya juga beruntung sudah ada yang mau mengikuti saya di lokasi tempat saya sekarang, sudah ada 54 kk yang lain masih bertebaran di luar karena masih takut dengan intimidasi di masa lalu. Dari Orde Lama dan ke Orde Baru yang kami harapkan ada perubahan ternyata tidak ada dan sekarang reformasi beda - beda tipis. Kami heran tidak bisa diberi keleluasaan hidup dan dianggap ilegal, padahal sebagai masyarakat adat, kami punya bukti adat sesuai kriteria yang disampaikan AMAN [Aliansi Masyarakat Adat Nusantara]. Kami tidak punya tanah lagi, sawah sudah ditenggelamkan, air kami yang dulu untuk sawah tapi sekarang jadi air mata.

 

Kami menonton kekayaan alam kami dibawa keluar. Daerah saya terkaya di Sulawesi Selatan, karena targetnya 100 ton nikel per bulan dan kami sampai sekarang tidak menikmatinya. Keadaan perempuan-perempuan kami yang dulu punya kegiatan sekarang ini tidak bisa bekerja karena tidak ada hutan tidak ada sawah. Juga sekarang banyak kawin kontrak di sana. Kawin 3 bulan kemudian dicerai. Banyak kafe di pinggir jalan, yang katanya dilindungi. Kami meminta air minum tidak dilayani karena di sana ada 3 PLTA, 165 mw 110 mw dan 95 mw. Walaupun ada PLTA kami masyarakat di sekitar itu masih memakai pelita. Kami bersurat resmi sudah 10 tahun untuk meminta penerangan tetapi tidak pernah diberi.

 

 


Baru pada bulan Mei lalu, kami menyambung kabel [listrik] ke rumah dan ditangkap, karena dituduh mencuri. Sangat menyakitkan sampai hari ini, kami tetap dianggap sebagai penduduk ilegal. Tidak boleh bikin rumah permanen. dan tidak pernah diberikan apa-apa. Itulah pengalaman kami. Waktu ke sini ke mari, sudah ada 54 kk dan komitmen kami sudah siap menata kembali kampung kami. Bekas kampung kami telah menjadi lapangan golf.

 

Saya dan teman membangun rumah sekitar 200 meter dari desa lama dengan nama Kampung Baru. Harapan kami adalah melalui perjuangan yang panjang dan dibantu oleh teman-teman dari pelosok tanah air, dengan semangat juang yang tinggi dan tidak merasa lelah,kami mengharapkan bisa membangun hari esok yang lebih baik dari hari ini.