ADA APA DI BALIK UDANG?

 

 

Kesaksian Nafian Faiz

 

Bapak Nafian Faiz, lahir di Sawang Balak, 05 Juni 1967. Ia bergabung dengan PT. Dipasena Citra Darmaja (PT. DCD) sejak tahun 1992. Ia mewakili Perhimpunan Petambak Plasma Udang Windu (P3UW), Dipasena Lampung Petani Tambak Udang Bumi Dipasena adalah Petani Tambak dengan pola kerja sama kemitraan antara PT. Dipasena Citra Darmaja (Anak Perusahaan Gajah Tunggal) Milik Syamsul Nursalim sebagai inti dan Petani Tambak sebagai Plasma nya.

 

Pembukaan lahan pertambakan dimulai tahun 1989 dengan luas lahan pertambakan 16.000 ha lebih, yang berada di Ujung Pantai Timur Lampung. Tambak ini terintegrasi dengan berbagai infrastruktur lainnya seperti: Pembenihan, Pabrik Pakan, Pengolahan Udang, Pengolahan Air Tambak, Pabrik Es, Pendidikan, Pemerintahan, termasuk pula fasilitas Ekspor Impor dalam satu kawasan yang disebut dengan kawasan Berikat.

 

Permasalahaan mulai mencuat antara petambak Plasma Dipasena dengan Perusahaan Inti PT DCD bermula pada tahun 1997. Saat itu budidaya petambak plasma berhasil, namun sudah delapan tahun lebih hutang yang ditanggung petambak tak kunjung lunas, bahkan jumlahnya bertambah. Pihak perusahaan menanggapinya sebagai dampak dari krisis monoter yang terjadi. Saat itu perusahaan tidak memberi transparansi pembayaran hutang setiap petambak. Hak dan kebebasan para petambak plasma juga terampas dengan kebijakan-kebijakan perusahaan yang sepihak. Ditambah lagi dengan kewenang-wenangan PT DCD dalam menentukan harga jual udang dan kebutuhan produksi udang. Para petambak plasma yang merasa dirugikan menyuarakan haknya dan membentuk organisasi petambak.

 

Pada 2 September 2010, terjadi aksi massa besar-besaran menuntut hak-hak dan dilaksanakannya kewajiban revitalisasi. Beberapa anggota P3UW dituduh sebagai provokator kerusuhan tersebut. Selanjutnya Bapak Nafian Faiz bersama tiga pengurus P3UW lainnya yakni Anul Muklis, Sigit Winardi dan Abdurrahman ditangkap oleh aparat. Bapak Nafian Faiz kemudian divonis hukuman penjara selama 30 bulan oleh Pengadilan Negeri Menggala, Lampung.

 

Kami menempati areal penambakan 16 ribu ha kalau kanal digabungkan jadi satu lebih panjang dari jalan lintas Sumatera. Kami ada 700 KK, kami berhimpun di organisasi Perhimpunan Tambak Udang Windu. Kami sudah melakukan protes sampai Jakarta ada 32 bis, dan dibilang disponsori oleh PKI. Tambak ini bermasalah dan dijual oleh pemerintah dan dikuasai oleh Aset Kredit dan Saham Group Dipasena kepada PT. Central Proteina Prima (CPP Group) melalui konsorsiumnya (Konsorsium Neptune). Karena melakukan protes, saya dipenjara 2,5 tahun.

 

Sebenarnya kami lupa masa lalu kami dan menatap masa depan. Bagi kami tidak ada pilihan kecuali melawan. Puncaknya perlawanan kami, saya ditahan dan dikriminalisasi. Seorang provokator. Sekarang ingin menatap masa depan kami lupa kalau Presiden SBY berjanji ingin menyelesaikan masalah kami dalam 100 hari, kami lupakan janji gubernur kami dan janji bupati kami. Negara nggak ada kami berproduksi sendiri.

 

Perputaran uang di sana 15-20 milyar per hari. Tambak ini menyumbang 60 persen udang nasional. Kalau saya ingin uang bukan saja saya bebas dari penjara tapi bawa uang dan mobil dari penjara tapi saya tidak mau dan memilih berjuang dengan kawan-kawan. Beberapa hari di sini, saya mendengar cerita yang lain, ternyata derita saya tidak seberapa dengan penderitaan Ibu dan Bapak lain. Orang tua bicara sejarah dan anak muda bicara masa depan. Saya bersyukur di penjara setidaknya menempa fisik dan batin keluarga saya menjadi mandiri, itu menjadi pelajaran luar biasa bagi anak-anak, mereka mencari sekolah sendiri.

 

Apa kita perlu melihat masa lalu terus sementara perlu lihat masa depan. Saya bersyukur tambak kami tambak terbaik di dunia dan sebulan lalu kami dibawa ke Indramayu. Pelajaran saya di Indramayu, tidak ada satupun tambak di Indramayu yang tidak dibilang juragan, namun kenapa kami di Lampung tidak kaya? Karena kami bertahun-tahun diperbudak. Sekarang kami belajar mau kaya tanpa hutang.

Kami hampir enam tahun sebelumnya diperlakukan gaya militer, kami disana bukan petani biasa, kami direkrut dengan pendidikan militer ketat, negara di dalam negara, orang tua tidak bisa masuk kalau tidak ada ijin, presiden juga mau masuk harus ada ijin , kami juga ada perpecahan internal pemimpin, ada yang disogok, bawa pulang kompensasi dan ini bukan pekerjaan mudah. Sudah banyak pimpinan kami yang silih berganti, tempat kami tempat terpencil, butuh delapan jam dari kota di jaman dulu sampai sekarang TV tidak bisa masuk dan perusahaan bisa buat berita sendiri, Saya sempat trauma kalau ada speed boat masuk.

 

Dulu begitu saya sering dijaga teman - teman. Karena pendidikan kami dilatih dan kepentingan kami satu, masing-masing punya dua lahan tambak, Posisi sama sehingga mau bergerak ya sama. Kalau dulu perusahaan drop pakan ke tambak secara khusus, sekarang penambak yang beli pakan sendiri, begitu juga es jadi ini bisa menggerakkan ekonomi, tinggal pemerintah yang lihat, ini tidak menarik karena kami tidak kasih upeti. Kita bangun saja negara ini dengan kemampuan kita sendiri.