PEMDA & PENGUSAHA BERSEKONGKOL MEMISKINKAN RAKYAT

 

 

Kesaksian Jaya

 

Bapak Jaya, 57 tahun, tinggal di Desa Rawa Indah, salah satu lokasi transmigrasi yang berada di wilayah pesisir di sepanjang garis pantai Bengkulu. Secara administratif Desa Rawa Indah terletak di Kecamatan Ilir Talo Kabupaten Seluma. Wilayah ini dihimpit oleh investasi perkebunan dan pertambangan, dan selalu diincar oleh pengusaha-pengusaha tambang. Walaupun sejak 2011 masyarakat dapat menghentikan salah satu perusahaan yang bergerak di tambang pasir besi yaitu PT Famian Tardio Negara, namun dengan berhasil menghentikan PT Famia Tardio Negara ini, tidak berarti lepasnya semua masalah.

 

Sejak tahun 2011 datang ancaman ekspansi perkebunan kelapa sawit PT Agriandalas. Bersama masyarakat Desa Rawa Indah, Bapak Jaya melakukan perlawanan terhadap PT Agriandalas. Akibat aksi perlawanan tersebut, Bapak Jaya mengalami ancaman pembunuhan dan teror yang tidak hanya ditujukan kepada dirinya namun juga dialami oleh dua orang anak perempuannya.

 

Berdasarkan data yang ada di Kanwil BPN, lahan Hak Guna Usaha (HGU) PT Agri Andalas tahun 1987 dan berakhir tahun 2018, hanya di wilayah Kecamatan Sukaraja dan Seluma. Sedangkan untuk wilayah Kecamatan Ilir Talo yang berada berdekatan dengan desa Rawa Indah dan Penago Baru, tidak ada dokumen. Sedangkan berdasarkan data yang di dapat bahwa HGU PT Agri Andalas hanya mencapai angka 7.000 hektar namun realita yang terjadi di lapangan luas wilayah lahan kebun PT Agri Andalas mencapai angka 17.000 hektar. Kelebihan lahan tersebut diambil secara paksa dan ilegal, termasuk kawasan transmigrasi Desa Rawa Indah seluas 174 ha.

 

Untuk menyelesaikan konflik, dikeluarkan Surat Keputusan oleh Pemerintah Daerah, tetapi ini belum menjadi solusi penyelesaian konflik antara masyarkat dengan pihak perusahaan PT Agriandalas, karena sampai saat ini tim yang dibuat tersebut cendrung berjalan di tempat tanpa ada upaya serius sebagai upaya penyelesaian konflik. Yang mengenaskan, sebagai daerah transmigrasi yang sesungguhnya menjadi program pemerintah di jaman orde baru, diskriminasi lain yang dialami oleh warga adalah ketiadaan akses jalan yang memadai bagi warga. Desa mereka terisolir, berlumpur. untuk mencapai ibukota kebupaten yang jaraknya 17 Km, harus menempuh waktu dua jam. Belum lagi diskriminasi yang dialami oleh warga karena para transmigran ini dianggap sebagai pendatang bagi masyarakat lokal.

 

Pemerintah tidak peduli dan cenderung mengabaikan kondisi wilayah ini, karena wilayah ini dianggap sebagai pembangkang dan penghambat investasi di kabupaten Seluma. Dalam konflik ini, PT Agri Andalas melakukan bermacam provokasi dan propaganda mendekati Pemda sehingga lahannya menjadi seluas 17 ribu ha, di luar HGU yang dimilikinya. Masyarakat tetap berjuang, mempertahankan lahan milik warga yang sudah ditanami oleh warga.

 

“Ketika kami mengambil tanaman atau mencabut tanaman yang menindih tanaman kami, PT Agri Andalas melaporkan kami ke aparat hukum, sebaliknya ketika masyarakat ambil 1 berondol kelapa sawit, Brimob datang dan Pemda diam saja. Saya diintimidasi oleh preman. Para preman dan polisi datang ke rumah mendesak harus meminta maaf. Pada bulan Desember 2012, bermacam intimidasi dan kekerasan dilakukan terhadap kami. Anak gadis saya sedang menghadiri pernikahan di kampung lain, dia dihadang dan dihajar oleh preman sampe babak belur dan tidak ada yang berani melawan. Dia lari ke kamar Pak Azwar, seorang warga desa setempat. Anak saya dan temannya serta Pak Azwar lari ke hutan, dan selama setengah hari bersembunyi di hutan. Kemudian dijemput warga, polisi dan camat lalu di bawa di rumah sakit untuk divisum. Selanjutnya setelah di-BAP oleh pihak kepolisian sampai sekarang tidak ditindaklanjuti sama sekali.

 

Masih kurang puas mereka mengadakan berbagai tindakan untuk membuat hati saya luntur untuk berhenti berjuang. 15 hari kemudian, anak saya ke dua, lagi bermain dengan pacarnya sekitar 500 meter dari desa di pinggir pantai, dia dihampiri 4 preman tak dikenal, tanpa basa basi diikat pacarnya dan dibuang ke hutan, ketika melihat anak saya, langsung diinjak lehernya.Tidak puas memperlakukan anak saya seperti itu, pacar anak saya diikat kakinya tangannya, baju disobek anak saya pun begitu. Seluruh baju anak saya dilucuti dan alat kelamin anak saya diraba pelaku, anting emas dilucuti, motor diambil dan ditinggalkan begitu saja. Pacar kemudian berhasil melepaskan diri dan mengambil baju di rumah lalu membawa anak saya ke rumahnya. Besoknya saya dan anak ke Polres, di-BAP. Tadi saya dengar informasi dari Polisi mengatakan “sabar nanti kami tindaklanjuti”.

 

Di daerah saya ada 28 motor hilang lima kasus perampokan dan belum diungkap. Satu nenek dirampok, mulutnya disumpel dengan kain untuk sholat dan meninggal. Ini semua modus perusahaan untuk membuat kami tidak betah di sana setelah kami tinggalkan mereka berpesta ria. Alasan kami menolak tambang pasir besi PT Famian, karena desa kami berjarak 500 meter dari pantai, dan hanya berjarak tiga meter dari air pasang tertinggi. Ini merupakan ancaman besar dari tsunami.

 

Harapan kepada semua elemen dan teman-teman untuk membantu saya agar kasus saya cepat terselesaikan. Saya mengharapkan jaminan keamanan dan jaminan sosial bagi diri saya, keluarga dan masyarakat. Kemudian tolong tanah 174 ha dikembalikan kepada masyarakat karena itu hak warga. Tambang pasir besi luasan sekamir 3600 ha sekian, dua kilometer masuk ke dalam laut dan tiga kilometer ke darat maka pemukiman kami habis, transmigrasi 450 ha kali 2 sekamir 2000, maka di bawah pemukiman kami juga termasuk ijin PT tambang itu.

 

Kami ramai-ramai datang ke kantor bupati dan jawaban pemerintah, meski kalian nangis darah saya tidak mencabut ijin PT Famian. Di dalam peta kerja PT Famian tidak ada Rawa Indah, kampung kami, dan ditulis di situ hutan belukar, padahal kami sudah masuk di wilayah itu dari tahun 1992. Mungkin sudah takdir dari yang Maha Kuasa, saya pernah ditawari PT Famian sebesar Rp 35 juta saya tidak mau. Mungkin itu sudah panggilan. Isteri saya juga ikut aksi dia bagian pegang uang, isteri saya pernah ikut ke Bandung ikut kegiatan bersama Jatam dan Walhi, kami di rumah sudah jodoh.