LAHAN KAMI DIRAMPAS, KAMI DIHEMPAS

 


Kesaksian Neneng

 


Neneng, 43 tahun, memimpin komunitasnya melakukan aksi perlawanan Warga Kampung Cibitung terhadap upaya AURI yang mencaplok lahan mereka, di Kampung Cibitung Kecamatan Rumpin, Kabuapten Bogor, Jawa Barat. Sengketa antara petani Cibitung dan AURI terjadi sejak tahun 1955, sampai saat ini belum ada kejelasan soal kepemilikan tanah.

 

“Pada 22 Januari 2007, terjadi bentrokan antara warga dengan AURI. Tragedi yang paling menyedihkan dan menyakitkan bagi warga Rumpin, TNI sampai mengin­timidasi dan menggunakan kekerasan sampai mau menembak warga, untung kami masih bisa diselamatkan. Sebelum kejadian sudah panas-panas karena melihat TNI yang lewat banyak banget. Saya sholat zuhur, dari sini lari saya manggil teman-teman semua, mengajak menolak adanya alat-alat karena salah satunya pasti merusak sawah-sawah kami. Spontan ada seribu massa langsung turun. Kami membawa spanduk sambil nyanyi, kami turun ke sana ke depan tempat water training, di situ sudah 400 aparat menghadang kami dengan bawa tabengan begitu komplit dengan senjata. Di situlah perjuangan kami mulai, kami berteriak-teriak, kami orasi, kami nangis-nangis memohon supaya TNI jangan ambil tanah kami karena di situlah satu-satunya untuk kehidupan kami untuk makan di situ bertani.

 

Sebelum 2007 ada sawah di sini, sekarang kayak lautan tidak ada manfaatnya anak-anak bisa kecebur, sudah tidak menjadi lahan garapan lagi. Sawah di sini sudah menjadi hak milik kami yang sudah disahkan Bupati, sudah ada SPPTnya, tetapi itu yang diklaim TNI. Setelah 22 Januari 2007, kami kehilangan sawah,. Dulu kan setiap panenan kami barengan bawa makan bawa nasi, sekarang hanya beberapa warga saja yang bisa seperti itu. Kedua, pikiran kami nggak nyaman, pahit banget, dari 2007 sampai sekarang merasa resah kayaknya hidup ini nggak tentram mikiran tanah. Dulu kami nggak punya perasaan-perasaan seperti ini, aman, tentram kehidupan, walaupun kami hanya makan ikan asin, daun singkong, tapikan bisa bertani aman.

 

Kemarin kami bikin tim verifikasi, kami bikin kesepakatan bersama TNI duduk bersama, Dephan dan pihak Bogor. Surat sudah dikirim ke TNI, Dephan dan belum ada jawaban sampai sekarang. Satu-satunya yang bisa mencabut itu ya pihak TNI lagi. Sampai sekarang kami bertanya siapa yang suruh TNI datang ke kampung. Hari itu kami usir TNI sampai dia pulang. Keesokan harinya 22 Januari 2007 jam satu siang, saya aktif di pengajian, ada ibu nangis, TNI yang kemarin datang lagi. Saya lihat ke situ ternyata mereka sudah datang bawa pasukan banyak, saya tidak takut karena TNI bakalan mengayomi. Lalu kami buat aksi, saya belum paham taktik aksi sama sekali bawa poster dan kertas dan lari ke sawah, kami nangis ini tanah kami dan kami makan di sini. Kata tentara, “ibu jangan nangis,” dan kami bertahan dua jam orasi, nangis, bertahan, telanjang, namanya lagi emosi. Lalu TNI buang tembakan, saudara saya terkena tembakan. Kami bertahan sampe jam lima sore, mereka [TNI] bilang, “pulang aja nanti ibu sakit dandanannya cantik pake kerudungan kenapa galak-galak sama kami.”

 

Salah satu anak Ibu Haji Neneng kelas dua SMP kena pukulan sampai pingsan. Bu Haji Neneng selamatkan anaknya ke rumah sakit. Kami tetap bertahan mempertahankan hak-hak kami. Akhirnya kami tidak tahu, diturunkan aparat tak terhitung membuang tembakan sampai kami tunggang langgang, kena pukulan, Pak Usup, teman saya terkena lemparan, saya teriak Allahu Akbar, kami kayak binatang. TNI banyak tak terhitung, sampai ke rumah warga, laki-laki semua kabur. Kami mengungsi saking takutnya. Ternyata setelah kami pergi kekerasan menambah, seorang tokoh warga, yang tidak ikut aksi diambil dari rumahnya, disiksa, kena setrum. Seorang pemuda juga kena setrum. Ada tujuh orang tokoh yang ditangkap dan kena setrum. Di markas TNI. Kenapa kok TNI itu, saya tiga hari menyaksikan begitu kerasnya TNI. TNI masih di kampung saya. Sudah 24 ha tanah diambil untuk perumahan elit, tiap hari kami dengar dentuman tembakan untuk latihan TNI di water training untuk latihan.

 

 


Setelah kejadian itu kami tidak merasa kalah meski ada yang tertembak, kami percaya siapa yang berjuang Allah melindungi. Kami didampingi LBH, KontraS, Walhi sampai saat ini. Pada 5 Mei 2011, kami aksi dengan semangat, para simpulnya begitu luar biasa sampai 6000 ribu massa dari Rumpin, kami ketemu TB Hasanuddin di situ, saya ikut masuk.

 

Setelah aksi tanggal 5 Mei 2011 satu minggu kami kunjugan ke DPR. TB Hasanuddin bilang pendekatan dengan TNI karena DPR pun bilang itu hak masyarakat Rumpin. Setelah itu kami pulang dan membentuk tim verifikasi, ada camat, warga, aparat desa dan TNI AU. Buat tim, bahwa tanah di Desa Sukamulya, 36,6 ha adalah lapangan terbang, 24 ha yang dia [TNI] kuasai dengan perampasan yang dibeli 5000 per meter dan water training 19 ha adalah seluruhnya milik warga. Tanah Pemda yang ada di dekat water training, dan 19 ha masuk ke sertifikasi. Kami mendatangi Pemda kenapa didiamkan, Pemda ke situ bawa Satpol PP dan mendatangi galian di luar galian verifikasi. TNI telefon Pemda bahwa 1000 ha di Sukamulya tanah mereka. Kami sedih karena Pemda takut TNI, apalagi kami?