SEBANYAK 130 ORANG HILANG SAMPAI SEKARANG


 

 

Kesaksian Azwar bin Kaili

 

Azwar Kaili lahir di Desa Prapat , Sumatera Barat pada tahun 1942. Saat ini tinggal di Sidorejo, Kecamatan Sekampung Udik, Kabupaten Lampung Timur. Ketika terjadi peristiwa Talangsari, Azwar Kaili sedang meng­hadap Camat Way Jepara. Saat kembali ke kampung, rumahnya telah terbakar dan anak isteri mengungsi. Azwar kemudian ditahan berpindah-pindah oleh Koramil setempat, Korem Metro dan di LP Rajabasa, dipindahkan ke Panti Sosial untuk menjalankan rehabilitasi selama 10 hari. Setelah keluar Azwar masih menjalankan wajib lapor berkala. Kemudian ditahan lagi di Korem selama 3 bulan. Dia kembali dipenjara selama 6 bulan, dengan tuduhan melakukan penyerangan terhadap Babinsa dan warga. Isterinya ditangkap dan ditahan di Padang, dengan tuduhan melarikan diri. Akibat peristiwa ini, Azwar Kaili kehilangan seluruh harta benda, ister­inya mengalami gangguan kesehatan akibat, dan anak-anaknya tidak diterima sekolah di sana dan terpaksa dititipkan di Pesantren di Jakarta dengan status anak yatim.

 

“Kejadian Talangsari pada 7 Februari 1989, mengakibatkan 130 orang hilang sampai sekarang. Saat kejadian saya sedang memenuhi panggilan Pak Camat [Way Jepara]. yang jaraknya sekitar 40 kilometer dari rumah. Ada suatu tuduhan dari menteri, saya mendidik anak-anak kesehatan yang sebenarnya yang ada di rumah saya waktu itu pendidikan baju pengantin tapi yang melakukan orang lain bukan saya, memang penuh gadis di rumah saya. Itu dituduhkan kepada saya. Saya uraikan pada Pak Camat, ini fitnah. Setelah selesai diperiksa saya pulang. Di tengah jalan motor yang saya tumpangi rusak, Jam lima sore ada orang Madura satu kampung lewat akhirnya menumpang dengan dia pulang ke kampung.

 

Sampai jam 9 malam di rumah lampu tidak ada menyala, rumah tidak dibuka, kawan tadi ajak nginap di rumahnya. Isteri kawan cerita apa bapak tidak tahu kalau ada rampok depan rumah bapak, kepala desa mati, bapak tidur di sini dulu, mungkin ibu menyingkir. Besok saya ke pasar tanya apa yang terjadi, datang Babinsa pesan bahwa saya dipanggil Koramil. Sampai di Kodim, Danramil tidak ada lagi keluar saya tunggu sampai dua jam, Polisi suruh Pak War menghadap polisi saja, saya tidak mau karena berkepentingan dengan Danramil. Lalu anggota Babinsa antar ke polisi. Saya dimasukan dalam sel, di situ ada orang berlumuran darah. Setelah dua jam di sel saya dan kawan tadi dirantai dan dimasukan ke mobil oleh Danramil, dengan alas an situasi lagi tidak damai dan ditahan dulu di Kodim.

 

Setelah diperiksa saya dibawa ke sebuah ruangan, di situ anak-anak dipukul ada yang pingsan rupanya. Jam 11 malam kami dipindahkan ke Rajabasa Lama, ada 40 orang semua tangan diborgol. Pagi-pagi datang pasukan kira-kira 1 kompi melihat anak-anak tahanan, semua pasukan menonjok anak-anak. Satu minggu di Rajabasa Lama dipindah ke LP Tanjung Karang jam 11 malam. Besok kami dipanggil ke Korem untuk diinterogasi. Selama tiga bulan di tahanan Korem. Terakhir didatangkan tim Kejaksaan untuk sidang untuk tahanan, Kejaksaan tanya Korem kenapa Pak Azwar ditahan karena kesalahannya nol.

 

Dua hari setelah itu saya dikirim ke Panti Sosial Lempasing, ada 10 hari saya di situ dan diberikan surat bebas dengan menyatakan saya terlibat. Dikasih uang Rp 5 ribu untuk ongkos pulang. Sampai di rumah atap hancur. Isteri ke Sumatera barat untuk kasih tahu keluarga bahwa saya ditangkap tanpa ketahuan kesalahan, tetapi dia malah ditangkap bersama anak saya yang berusia 12 tahun, dituduh pelarian, kepalanya dihantamkan ke tembok dan ditahan di Padang. Saya ke Padang, isteri sudah di rumah orang tua saya dan semua berkas disobek. Isteri saya disiksa ditahan di Padang sampai dia seperti orang gila.

 

Waktu itu datang komandan dari Medan yang mengamankan ibu dan menyuruh dipindahkan ke Korem dengan anak. Saya sampai ke Padang dan bawa pulang isteri dan anak-anak saya. Mau makan, makanan tidak punya. Saya lalu tinggalkan isteri dan tempat berteduh untuk cari hutang beras, malam itu rumah saya dibakar anak-anak tidur di bawah rumah terbakar. Dalam peristiwa itu rumah tiga, kios satu dan mobil terbakar. Saya mencoba mengirimkan surat ke bupati dan DPR untuk kelanjutan hidup, tidak ada jawaban sama sekali. Lalu ada teman saya polisi buat surat ke kotak 5000, eh surat ini sampai ke Korem, saya dipanggil ke Korem dan disiksa. Kawan saya ini diinjak-injak, tiga bulan dia mati, saya ditahan empat bulan di Korem dan tiap pagi saya kerja menyuci mobil mereka.

 

Saya mencoba bertani, saya minjam duit setelah hampir panen, dibawa Babinsa dengan masyarakat 40 orang, saya hadang mereka, saya malah dilapor ke polisi bahwa kejar mereka. Saya bilang, Pak saya tidak kejar orang tapi binatang yang berbentuk orang. Saya disidang sekali lalu jatuh hukuman enam bulan penjara. Itulah penderitaan saya selama Peristiwa Talangsari.

 

Selama empat tahun, isteri saya menderita gatal tidak bisa sembuh. Kalau ada tamu datang, besoknya saya dibawa ke Korem dan ditanya siapa yang datang. Keluarga saya ketakutan. Anak-anak tidak diterima sekolah di sana, dua anak saya diterima di sekolah di Jakarta atas nama anak yatim, setelah besar dia malu karena ayah masih hidup tapi disebut yatim, sekarang sudah SMA, anak lain sudah tamat SMA. Isteri saya bekerja membantu orang melahirkan.

 

Yang mati di Talangsari, anak saya 11 tahun dan sampai sekarang tidak ditemukan, ada empat orang anak lain yang bersama dia lari ke satu rumah yang kemudian dibakar. Dalam investigasi dengan KontraS, ada tulang belulang yang ditemukan di rumah itu.

 

Komnas HAM sudah bilang itu pelanggaran HAM berat dan sudah masuk Kejaksaan Agung, tapi tidak ada tindak lanjutnya. Saya sudah ke SBY supaya didorong kasus ini ke pengadilan dan dia bilang, iya, tapi sampai hari ini tidak ada apa-apa, ke Menkopolhukam, Kejaksaan Agung, dia bilang tunggu keputusan DPR. Saya ke Komisi III DPR dan mereka bilang desak Presiden, sampai sekarang tidak. SBY janji dalam empat hari tim saya sampai sana tapi sampai sekarang sudah hampir lima tahun belum ada tindakan.