DITUDUH MENARI GENJER-GENJER DI LUBANG BUAYA

 

Kesaksian Mudjiyati

 

Ibu Mudjiyati, yang ketika peristiwa 1965 masih berusia 17 tahun, ditangkap oleh aparat militer yang berasal dari Puterpra Petamburan ketika berada di rumah. Ia ditangkap untuk dimintai keterangan mengenai aktivitas bapaknya yang lebih dahulu ditangkap. Sebelum dibawa ke Kodim Air Mancur, ia sempat ditahan selama satu malam di kantor Puterpra tersebut. Selama pemeriksaan dilaksanakan di Kodim Air Mancur, ia mengalami tindakan penyiksaan dari aparat militer yang memeriksanya. Setelah dari Kodim Air Mancur, ia kemudian dipindahkan ke Penjara Bukit Duri. Pada April 1971, ia dipindahkan ke Plantungan dan menjalani kerja paksa, Mujiyati dibebaskan pada 7 Desember 1979. Walaupun sudah dibebaskan dari Plantungan, ia masih menjalani wajib lapor dan dikucilkan oleh masyarakat. Akibat stigmatisasi yang diberikan oleh pemerintahan Orde Baru, ia dan keluarganya sempat mendapat kesulitan untuk mengurus surat pindah tempat tinggal.

 

“Pada tahun ‘65 saya masih remaja, ikut anggota Ormas Pemuda Rakyat. Saya tertarik ikut Ormas Pemuda Rakyat karena saya belajar kesenian, belajar paduan suara, kami menyanyikan lagu-lagu nasional. Pada peringatan 17 Agustus 1965 kami disuruh tampil di perayaan RT kami di Slipi. Tak lama kemudian terjadi peristiwa September ‘65, saya nggak ngerti duduk perkaranya. Kita hanya mendengar dari radio.

 

 


Waktu mendengarkan radio saya bingung. Ada apa? Berita di koran macam-macam, saya semakin bingung. Bulan Oktober rumah saya didatangi tentara yang mengambil Bapak saya. Bapak saya pegawai kecil di Front Nasional, Jalan Merdeka No. 13. Rumah kami digeledah, tak tahu apa yang dicari. Waktu itu ditemukan 1 stel pakaian hijau. Semua pegawai punya pakaian sukarelawan tapi itu juga resmi. Bapak saya dibawa. Saya anak terbesar dan adik kecil-kecil. Tak lama kemudian rumah saya didatangi lagi, saya dimintai keterangan Puterpra (sekarang koramil) Petamburan, lalu dibawa ke Koramil Petamburan. Di situ sudah ada Bapak saya dan tahanan lain. Karena saya tidak mengatakan apa-apa, mulut saya dibekap dan kepala dibenturkan ke tembok. Karena saya tidak mengerti ya saya tidak mengiyakan apa yang dituduhkan kepada Bapak.

 

Kami anak perempuan di Jakarta waktu itu dituduh ikut menari genjer-genjer di Lobang Buaya, padahal saya tidak tahu apa itu genjer-genjer dan di mana letak Lobang Buaya. Di Kodim Air Mancur, Budi Kemuliaan saya ditahan selama dua bulan, kemudian dipindahkan ke Penjara Bukit Duri. Kami satu kamar mestinya untuk orang satu, diisi bertiga. Satu tidur di tempat tidur lalu yang lebih muda tidur di bawah. Ibu-ibu yang ditahan banyak yang punya anak dan bayi atau anak yang bersekolah sekolah ikut ibunya karena ibu-bapak mereka ditahan. Ada anak kelas 1 mengalami disel, Ibu hamil juga ada.

Kebetulan Ibu Salawati Daud, seorang perawat yang ditahan menolong ibu melahirkan dengan alat apa adanya. Ada 150 orang di Penjara Bukit Duri.

 

Dari hasil pemeriksaan saya masuk golongan C, mestinya saya dibebaskan tahun ’67, atau tahun ’70. Saya berharap bisa bebas tahun ‘70 ternyata tidak juga. Lalu saya dipindahkan ke Penjara Plan­tungan, Jawa Tengah. Di sana berkumpul perempuan dari Jawa, sekitar 500 orang. Di Plantungan ada unit-unit kerja: unit kerja pertanian, pejahitan, kerajinan tangan, dan pembatikan. Saya memilih unit pertanian. Saya di sana belajar mengolah tanah, menanam singkong sayuran. Unit kerajinan tangan kerjanya merajut, menyulam kristik Unit penjahit juga ada. Secara fisik di Plantungan tidak disiksa tapi saya mendapat siksaan mental, saya tidak tahu penyebabnya saya dipanggil komadan ke ruangan dikatakan melanggar peraturan, saya bilang langgar peraturan yang mana, waktu apel saya ada waktu tugas di dapur. Saya dikurung di kantor dari pagi sampai sore. Mau kirim surat diatur komandan hanya boleh 20 kata. Saya tidak ada yang bezuk karena bapak saya dipecat tidak dengan hormat dan ibu saya bekerja keras menghidupi adik-adik saya. Yang mendapat kiriman uang, diganti dengan uang-uangan yang ditulis angka uang. Kami diberi uang dari hasil kerajinan yang kami jual itu.

 

Tahun ’70 Desember akhir, saya dibe­baskan dari Plantungan, dan ditampung oleh PSK (Projek Sosial Katdinal) di Tebet Barat Raya kepunyaan Romo Sutono Panduyo. Di tempat ini sudah ada banyak mantan Tapol dari Pulau Buru dan Nusa Kambangan, perempuan dan lain laki-laki.Di situ beberapa bulan. Di situ ketemu jodoh, lalu kami memutuskan menikah bulan Mei ‘80 dan kami mengontrak rumah di daerah Sawangan. Untuk pindah dari satu rumah kontrakan ke rumah kontrakan lainnya, kami mengalami kesulitan tidak diberikan surat pindah oleh Koramil setempat.

 

Tahun ’80-an daerah Guntur digusur karena mau dijadikan daerah segitga emas, saya tidak punya uang, saya terus pindah ke Pondok Rangon, jangan lapor lagi tapi langsung tinggal. Sesudah 1 tahun kemudian kami baru ngurus surat pindah dari Jakarta Selatan ke Jakarta Timur.  Tahun ’94, suami meninggal, dan sama lurahnya kami dikirim surat undangan,pada tanggal 1 Oktober disuruh kumpul di kantor lurah. Bagaimana dengan anak saya?