ADA YANG SALAH DI NEGERI INI

 

Kesaksian Dewi Kanti

 

Agama Djawa Sunda (ADS) atau juga dikenal sebagai Sunda Wiwitan, yang didirikan pada tahun 1848 oleh Pangeran Madrais Alibasa Widjaja Ningrat, yang dipercaya sebagai keturunan Sultan Gerbang Pangeran Alibasa I, saat ini telah berkembang ke pelosok Jawa Barat, seperti Kuningan, Indramayu, Majalengka, Ciamis, Tasikmalaya, Garut, Bandung, Padalarang, Bogor, Purwakarta dan DKI Jakarta.

Jumlah penganut ADS dipercaya pernah mencapai lebih dari 100.000 orang.

 

Saya merupakan generasi ketiga pelestari spiritual yang disebut Agama Djawa Sunda. Latar belakang agama Djawa Sunda diawali keadaan pada jaman penjajahan, dimana ketertindasan sebagai bangsa


memunculkan pemahaman bahwa ada yang salah di bangsa ini. Kenapa muncul penjajahan atas nama bangsa bahkan intimidasi atas nama agama saat itu. Sehingga terjadi penggalian spiritual yang digali oleh seorang tokoh yang bernama Madrais pada 1890-an. Beliau merasa perlu adanya gerakan spritual untuk melawan keterpurukan bangsa, menumbuhkan kesadaran bangsa yang mandiri dan merdeka. Ini jadi fondasi melakukan perlawanan budaya terhadap penjajah.

 

Perlawanan budaya ini diperhitungkan Belanda dan peluang menghancurkan gerakan ini adalah dengan diadu domba dengan kelompok lain dan dinyatakan sebagai aliran sesat, penyembah api dan tidak Bertuhan, sehingga kelompok pesantren yang hanya mendengar informasi secara sepihak akhirnya membuat stigma. Ada perubahan politik pada tahun 1845 Belanda sendiri secara hukum adat mengakui ada pelayanan sipil dengan pernikahan Adat Sunda, selanjutnya pada penjajahan Jepang posisi komunitas kami justru semakin tertekan.

 

Pada Jaman Jepang dibentuk kantor urusan agama sehingga memisahkan layanan publik pada kantor itu. Ketika masa DI/TII masuk, kami mengalami peristiwa dimana gerombolan itu masuk rumah adat kami dan berusaha membakar, namun puji rahayu rumah adat kami terselamatkan. Setelah Periode 50an, masa Republik Indonesia Serikat, saat itu mulai muncul arah angin baru dimana oraganisasi kebathinan ada ruang bergabung dalam ruang Organisasi Kebatinan Indonesia dan kami jadi anggota. Namun dalam perjalananan selanjutnya legalitas sebagai orgnisasi menjadi tantangan ketika Bakorpakem dibentuk tahun 64 dengan SK Bakorpakem membubarkan ADS. Perkawinan dikriminalisasi bahkan puluhan pasang setelah menikah dipenjara termasuk Ayah saya. Pada tahun 64 beliau ditangkap dan juga diarak keliling jalan raya di Kuningan, dibiarkan untuk dicaci maki dan dilempari batu dan ditodongkan senjata dengan pengawal senjata.

 

Tahun 65 ada UU PNPS yang hanya mengakui agama resmi dan itu semakin memojokkan kami. Kakek saya melakukan perenungan dan mendapat pewahyuan, kami harus melindungi di bawah cemara putih, yang waktu kakek memahami berlindung di bawah cemara putih adalah berlindung di Kristen dan Katolik. Kakek memiliki kesepakatan dengan pimpinan Gereja Katolik Kuningan, bahwa kami tetap menjalani tradisi kepercayaan.

 

Tahun 1976, karena sejarah rumah adat kami dinaikan statusnya sebagai cagar budaya dan Pemerintah Pusat mau membantu memperbaiki, Pihak gereja Katolik memutuskan tidak menempati rumah ibadah kami sebagai gereja. Pada peristiwa peringatan tahun baru Syura Ayah meminta liturgi gereja supaya Pastor menggunakan atribut Kesundaan, awalnya disepakati, namun pada hari H pastor tidak menggunakan. Ayah saya keluar dari gereja, tanpa diperintah warga lain mengikuti. Disitulah gejolak ada ketidakcocokan diantara kami. Kami menyadari agama apapun intinya sama, tapi kami punya prinsip, kami Katolik tapi Katolik yang nyunda, tapi tidak disepakati.

 

Pada tahun 82 setelah keluar dari Katolik, Ayah kami mendirikan Paguyuban Adat, untuk melestarikan tradisi spritual. Tetapi Kejaksaan Jawa Barat kembali mengeluarkan SK 44 tentang larangan perkawinan liar, dasarnya mendapat masukan dari masyarakat. Dengan pelarangan dan pembedaan, bahwa kami aliran sesat oleh Muslim, kami dihina oleh misionaris di Jawa Barat. Tantangan luar biasa itu tetap kami hadapi. Anak-anak kami mengalami kekerasan psikis setelah keluar SK Kejati tahun 80 pada semua upacara bendera anak-anak jangan masuk paseban karena itu aliran sesat.

 

Setelah 17 tahun pelarangan Seren Taun, ada perubahan mata pencaharian di komunitas kami. Ketika kami menanam varietas lokal untuk persembahan dalam acara tersebut, banyak anggota komunitas yang patah arang, untuk apa lagi tanam varietas lokal, toh upacara kami dibungkam. Momentum reformasi, kami menampilkan jati diri kami kebetulan kakak saya melakukan upacara pernikahan adat. Seren taun dihidupkan lagi. Dari sisi administratif, diskriminasi KTP, perkawinan dianggap masih dianggap liar, menghasilkan akte kelahiran tertulis lahir seorang perempuan dan secara hukum dihilangkan dari silsilah ayah kandung.

 

Sebagai generasi muda saya mau menunjukan bahwa saya berharap agar ada penghargaan terhadap para leluhur nusantara kita lahir sebagai bangsa bukan atas keinginan kita. Manusia lahir dari ibu yang mewariskan peradaban baik spirtual maupun kebudayaan. Saya ingin menjadi saksi meski dianggap berbeda dan aneh. Beberapa upaya yang sudah kami lakukan: membuat langkah berjejaring menyuarakan hak konstitusi. Saya harap kesadaran berbangsa ini terus dilanjutkan oleh adik-adik yang terlanjur mendapat pengajaran budaya yang salah.

 

Harapan saya: adik-adik saatnya bangkit sebagai generasi muda, melaksanakan harapan tokoh agama untuk memperjuagkan kerukunan antar umat beragama, tidak hanya terbatas pada agama formal yang diakui negara tapi juga agama leluhur warisan nusantara. Bagi kami UU Adminduk bukan sebuah penyelesaian, tetapi negara memecah belah warga dengan politik belah bambu satu diinjak satu diangkat.