LIMA TENTERA PERKOSA SAYA BERGANTIAN

 

 

Kesaksian Naomi Masa

 

Naomi Masa, perempuan dari suku Namblong, lahir di Besum, Distrik Nimbokrang, Kabupaten Jayapura pada 17 April 1954. Serangkaian operasi militer telah menyi­sakan sejumlah pengalaman menyedihkan bagi kehidupan perempuan di Papua. Seperti yang dialami Ibu Naomi Massa. Ia pernah dijadikan ‘umpan’ oleh tentara mencari suami yang dituduh OPM dan lari ke hutan. Ketika tidak berhasil menemukan suaminya, Ia dibawa tentara ke Pos Tentara di Besum dan diperkosa oleh lima orang tentara.

 

“Suami saya ditangkap oleh Pasukan 753, 751 752 sore jam 4 pada tahun ‘83. Jam 7 pagi baru saya dengar berita kalau Bapa sudah diikat sudah mau diculik. Saya bilang Bapa salah apa? Bapak tidak ikut politik. Saya tinggalkan anak yang masih 3 bulan, saya mencari Bapak ke Pos.

 

Di pos saya tanya tentara, “Bapa ada di sini ka?”

Dia bilang, “ Ah Bapak tidak ada,”

 

Mbak Jawa yang ada di situ kasih kode dengan tangan menunjuk ke belakang. Saya ke belakang panggil nama kecil langsung dijawab Bapa. Tangannya diikat dan mata ditutup, saya kembali tunggu, sore saya balik lagi dan melihat Bapak sedang disiksa, saya bilang bapak berdoa saja.

 

Tentara bilang, “Iyo ko percaya jadi,” saya bilang, “Ya kita umat Kristen sudah.”

Bapak bilang, “Kasih suara sebentar malam kalau kau dengar bunyi senjata berarti saya sudah ditembak.


” Sa pulang ke rumah dan jam 6 sa dengar bunyi senjata 4 kali, sa bilang aduh Bapak su ditembak. Tidak lama ada truk stop depan rumah, terus ada yang teriak, Mama Naomi keluar kau tadi bicara apa di sana?”

“Kamu semua tahu apa yang sa bicara.” Tentara suruh naik truk, cari bapak di hutan. Turun di Distrik Sawoi, jalan kaki di hutan besar batariak,

“Bapa ko di mana?”

Ditendang, dipukul, sa bilang, “Sa sakit, ada anak kecil jangan tendang.”

 

Kembali naik truk, turun di depan Gereja Katolik Besum. Mereka tendang kasih siksa saya. Anak kecil sa lepas di rawa besar, langsung masuk dalam hutan, ditendang saya tidak tahu apa anak sa lepas atau tidak, baru Tuhan kasih ingat saya menyanyi lagu ini, ingat dalam susah, saya keluar baru ingat ada kasih masuk anak dalam lumpur, bayi tiga bulan tapi dia tidak mati dalam lumpur. Lalu saya menyanyi lagu Firman Tuhan halus mengundang jawabanku Alleluya. Saya ditendang dari gunung sampai ke bawah, saya lindungi anak kecil agar selamat, saya bilang Tuhan tolong.

 

Sampai di pos, tentara ikat kaki sebelah kanan di kanan bangku kanan dan kaki kiri di bangku kiri, tangan ikat di meja, 5 orang naik di atas badan, perkosa saya, dari jam satu malam sampai jam tiga pagi. Anak saya mereka kasih minum kopi. Jam empat mereka suruh saya pulang. Saya tidak bisa berjalan dan jatuh di depan pos. Mereka membawa saya ke rumah sakit dan mendapat banyak jahitan di kemaluan saya. Koramil menahan saya sampai sembuh dulu. Tetapi saya langsung ke Laksus mengadukan keadaan saya.

 

Saya pingsan sampai keesokan harinya. Sesudah sadar saya bilang sama tentara, “Pak saya punya tubuh begini, apa suami saya bisa terima. Saya merasa malu, martabat sudah jatuh. Kalau saya pulang apa masih diterima oleh masyarakat? ”

 

Saya pulang ke kampung, tetapi saya tidak mau tinggal di kampung, saya tinggal di hutan selama tujuh tahun. Saya rebus air coklat dan daun pandan untuk kasih anak saya. Tinggal di hutan dari dia umur tiga bulan sampai tujuh tahun. Pastor datang ke kebun dan bilang, supaya saya kembali. Pastor kemudian sekolahkan anak saya dan kami kembali ke kampung.

 

Kelima orang tentara yang memperkosa saya adalah orang Ambon dari 753 Manokwari, YM suku Biak Papua dari 753 Manokwari dan 3 orang lainnya : 1 Papua, 2 orang rambut lurus (pendatang). Orang Ambon ini satu gereja dengan saya, dia bilang,

 

“Sa memang sudah nekat lamar ko.” Waktu dia siksa saya,

saya bilang, “Sa ibu rumah tangga bukan nona.”

Satu lagi bilang, “Cara Mama terima kami di rumah bagus, mama di gereja tampil di depan.”

 

Suami saya Alex, dia Ondoafi. Saya menyesal martabat rapuh, teman-teman sekarang tidak mau bergaul. Saya sekarang di kebun dan rumah. Saya punya suami sudah lepas, saya seperti janda, saya sekarang cari makan sendiri. Anak perempuan saya yang saya sembunyikan dalam lumpur mati, jantung hangus.

 

Dokter bertanya, “Dia kenapa?”

Saya bilang tentara kasih dia kopi.

 

Ia meninggal tahun 2010, dan saya kubur di pinggir jalan biar tentara lihat. Saya berdoa Tuhan, saya harus bersaksi sekarang dan sekarang terjawab.