ORANG JAKARTA TIDAK MENGERTI KAMI ORANG PAPUA

 

 

Kesaksian Christian Padwa

 

Christian Padwa, biasa dipanggil Chris lahir di Mandori tanggal 29 Desember Tahun 1942. Karena aktivitasnya mempersiapkan Act of Free Choice, Bapak Chirs, ditangkap oleh Polisi pada 27 November 1967. Ia dan rekannya ditahan di beberapa tempat penahanan, mengalami penyiksaan dan menjalani kerja paksa di beberapa tempat. Bapak Chris dibebaskan pada September 1969 setelah Pepera. Ia kemudian kembali ke Biak dan bekerja di PLN. Pada Januari 1983, kembali ditangkap dan ditahan selama 25 hari dengan tuduhan terlibat dalam Gerakan Papua Merdeka. Ia juga kemudian dipecat dari pekerjaannya sebagai pegawai PLN.

 

Masuknya Papua ke Indonesia. Kembali lagi kepada persetujuan Indonesia-Belanda pada 15 Agustus 1962, Belanda dan Indonesia sepakat pada tahun ‘69 orang Papua mengadakan penentuan nasib sendiri, mau merdeka atau gabung dengan Indonesia. Tetapi penandatanganan diganti menjadi Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) Papua masuk Indonesia hanya kesepakatan Indonesia - Belanda melalui PBB diserahkan oleh UNTEA.

 

“Saya ditangkap pada November tahun ‘76 dan dibebaskan pada September ‘69. Saya ditahan di sel polisi di Biak selama 4 bulan lalu dikirim ke Manokwari. Manokwari adalah pusat penahanan bagi semua tahanan di Papua pada waktu itu, hampir 900 orang ditahan, dari Fak-fak, Kaimana, Biak. Saya ditahan di Manokwari, teman lain di Biak di AURI dan AL. Di Manokwari, dalam pemeriksaan itu ada meja bulat, kuku ini ditaruh salah satu kaki meja lalu empat sampai lima orang naik di atas, itu langsung kencing di celana. Kedua disetrum dengan kabel hitam di salah satu jari dan yang merah salah satu jari, tapi untung saya karena kerja di PLN jadi saya tahu caranya waktu ditrap saya angkat kaki jadi tidak rasa trap.

 

Tahun ‘68 sekitar 100 orang dibawa dari Manokwari ke Jawa kerja di perkebunan di Jawa barat. Menjelang Pepera, kami tinggal 102 orang, 10 orang dipindahkan dari Manokwari dan satu minggu kemudian 42 orang menyusul ke Arfai, nama saja yang kembali, tidak pernah kembali dengan utuh. Pada November tahun ‘68 kami dipaksa patroli bersama dengan Raiders 700 di hutan, ada 20 orang, dengan tujuan, pas kalau lagi patroli ada kontak senjata dengan OPM kami yang ditembak. Di sana kami punya tugas cari beras dan kaleng, sambal yang didrop pesawat.

 

Sebelum Pepera, dari Korem dikeluarkan surat pembebasan dan juga dari pengadilan, seolah kami sudah dibebaskan padahal itu taktik supaya kalau ada yang tanya seolah saya sudah keluar. Kami tinggal di tahanan sampai teman-teman dikirim ke Jawa sampai sel-sel sudah kosong, kami hanya tinggal 102 orang. Dari 102 dibebaskan berturut-turut sampai tiga minggu menjelang Pepera (1969) di Manokwari kami didatangi Intelejen polisi, memisahkan 10 oarng yang dianggap kelas berat (kasusnya), : Manuel Watopa, Guru Yance Mofu, Zakharias Kafiar, dan saya lupa tujuh orang lainnya. Mereka dikirim lebih dulu ke Arfai.

 

Pada peristiwa 1965 sampai Tahun 1970, siapa yang pergi ke Arfai hanya namanya saja yang kembali. Jadi waktu mereka dibawa pada jam sore hari jam lima atau 6 kami anggap saja itu mereka sudah hilang (mati). Setelah hampir dua minggu jelang Pepera, kami 42 orang menyusul lagi (ke Arfai). Dan saya berterima kasih kepada Tuhan sebab, ada satu hal yang luar biasa. Ada truk polisi tapi beritahukan bahwa saya sakit usus buntu jadi saya harus pergi minta obat, saya pergi ke Dokter Tan, dia tanya, “Kamu mau dibawa kemana?” Saya kasih tahu, dibawa ke Arfai. Dokter Tan kasih saya obat usus buntu. Dan setelah kami tinggal di Arfai selama 2 minggu kami hanya diberi beras saja. Sedangkan lauk pauk seperti ikan, sayur, itu kami berusaha sendiri. Kami tinggal di Arfai waktu menjelang Pepera itu ada wartawan-wartawan asing datang. Akhirnya setelah Pepera selesai baru kami dibebaskan.

 

Kantor RRI Manokwari kami yang bangun, kami disuruh ambil batu. Jalani huku­man dengan cara kerja kasar, kami 20 orang dibawa ikut tentara Raiders ke Manyamboi, tinggal di Manyamboi selama bulan. Pada 17 Februari 1983, saya ditangkap lagi kedua kali dan ditahan 25 hari di tempat kecil 2x2 meter. Secara fisik tidak mendapat siksaan tapi secara psikis dibuat mental jatuh. Setelah dibebaskan saya melapor selama 3 tahun, dari tahun ‘83-86, berkat kebaikan Pak Simanjuntak yang bilang, “Chris tak usah lapor lagi,” sebelumnya lapor senin dan kamis. Setelah keluar saya dapat resume dari polisi, saya dipecat PLN wilayah 10 Biak.

 

Hari ini saya berdiri mewakili teman saya baik yang sudah meninggal maupun masih hidup, kami sedikitpun tidak menyimpan dendam terhadap yang menyiksa kami waktu itu. Kita tidak bisa membangun Indonesia dengan dendam, sebab kita harus membangun dengan kasih karena dengan bahasa kasih yang bisa dilihat orang buta dan dengan kasih didengar orang tuli.