PERTEMUKAN KAMI DENGAN KELUARGA DI TIMOR LESTE

 

 

Kesaksian Isabelinha Pinto

 

Pinto biasa dipanggil Lina Sembel, lahir pada tahun 1973 di Timor Leste. Dia diambil secara paksa dari keluarganya pada saat berumur 6 tahun dan dibawa ke Indonesia. Lina tinggal dengan orang tua angkatnya, seorang tentara, di Bekasi, Jawa Barat. Masa kecilnya sangat menderita, dimana ia sering tidak mendapatkan makan yang cukup, dan harus bekerja sangat keras untuk mencuci, dan pekerjaan domestik lainnya. Menjelang remaja, ia menjadi korban pelecehan seksual dari tentara yang mengangkatnya.

 

“Saya adalah salah satu dari 4000 anak anak Timor Leste yang dibawa paksa oleh tentara. Saya dibawa tahun ‘79 saat berumur 6 tahun. Saat adopsi itu ada petinggi ABRI di antaranya Panglima ABRI M. Jusuf, dan Sudarto yang menandatangani surat pengangkatan saya. Orang tua tidak setuju saya dibawa, tapi karena invasi saat itu dimana orang tua dipaksa, sebagai jaminan agar keluarga saya tidak dibunuh. Akhirnya saya dibawa oleh tentara dari Kesatuan 202.

 

Sampai di Bekasi, saya dibawa oleh keluarga yang nggak setuju saya datang. Akhirnya saya jalani hidup dengan berbagai kekerasan dan pelecehan juga. Sampai tahun ‘84 Bapak Tentara masih berkomunikasi dengan keluarga saya di Timor Leste. Kalau saya tanya, katanya itu bukan keluarga saya dan kamu diambil dari hutan dan tidak punya keluarga. Tapi saya ingat ada penandatanganan di bawah waktu itu, dan saya baru tahu ada petinggi tentara itu. Ayah saya Raja di Dili dan menurut tentara kalau anaknya diambil maka akan menurut pada tentara. Tahun ‘84 saya dibawa ke Manado dan tinggal dengan keluarga tentara yang mengambil saya. Mereka juga tidak suka dengan saya karena dianggap menyusahkan dan tidak jelas dari mana. Saya mengalami berbagai kekerasan dan pelecehan seksual sampai kelas 2 SMA. Pada saat itu saya pernah mengambil surat pengangkatan saya dan saya berikan ke teman dan berharap satu saat bisa temukan keluarga saya dengan cara apapun.

 

Saya dipanggil lagi oleh orang tua angkat di Bekasi dan ibu [angkat] tetap tidak suka dengan saya. Saya tinggal pindah-pindah. Ternyata, Bapak tentara suka pada saya dan ingin saya jadi isteri. Saya alami kekerasan dan pelecehan dari Bapak itu, sekarang Bapak itu udah meninggal. Saya cari hidup sendiri, cari pekerjaan dan menikah dengan suami dari Jogja serta berharap bisa ketemu keluarga. Pada tahun 2009 keluarga berusaha mencari saya dan saya difasilitasi keluarga bisa ketemu keluarga di Timor Leste. Dari keluarga saya tahu bahwa dulu ada pengangkatan resmi, tetapi mengapa saya kehilangan jejak?

 

Anak-anak lain banyak yang satu kapal waktu dibawa dari Laga. Mereka latihan naik kapal kecil lalu naik kapal besar lewat tambang, saya dan anak kecil digendong tentara naik kapal, Anak-anak laki-laki dipukul dan dimasukan dalam karung. Saya dan dua anak perempuan lain dibawa ke tempat tentara mandi dan disuruh melihat mereka mandi. Sampai di Surabaya ada yang mau beli, Bapak Tentara bilang, “Jangan kalau binatang saya kasih aja, tapi ini manusia. Jangan ini bukan keturunan biasa,” lalu dibawa ke Bekasi. Sampai di Bekasi ganti nama. Ada firasat lewat mimpi bahwa Dili itu semakin dekat. Saya ingat bayangan kejadian masih kecil, saya mimpi ada rumah saya diterjang tsunami terus dalam mimpi saya lihat waktu masih kecil.

 

Pada tanggal 16 Juni 2009 jam 11 sepupu datang, anak saya bilang ada tamu datang mungkin saudara ibu, mirip sekali. Anak saya bilang ibu jangan menangis lagi karena sudah ketemu keluarga ibu. Mama saya sudah telpon, “lou (nona) kamu ingat bahasa Tetun?” Saya ingat lagu yang dinyanyikan waktu saya kecil. Lalu ada saudara saya di Kedutaan Timor Leste datang juga, tapi sekarang keluarga dari orang tua angkat tidak berani datang ke rumah, karena dulu kan mereka janji untuk menjaga saya dan dia jaminan tapi ternyata tidak terjadi. Identitas masuk keluarga orang tua TNI dan nama diganti masuk nama keempat tapi tulisan saja, tidak diakui itu.

 

 


Harap Pemerintah Timor Leste mengambil tindakan agar anak-anak yang diambil paksa setidaknya bisa ketemu keluarga di Timor Leste dan berharap Timor Leste bisa kerja sama dengan Dephukham atau LSM di Indonesia untuk mencari anak seperti saya agar bisa berkumpul dengan keluarganya.”

 

Victor da Costa, anak yang dipindah paksa dari Timor Leste, juga memberi kesaksian:

 

“Berkaitan dengan Anak Timor yang dibawa sejak invasi dari Timor Leste pada tahun ‘75-79 seperti Kak Lina, sama dengan saya. Saya dibawa pada tahun ’80-an. Memang posisi anak seperti ini beda-beda, kalau Kak Lina dibawa petinggi TNI tapi ada yang dibawa person-person TNI, ada yang kehidupan baik tapi ada yang tidak. Saya ketemu anak di Semarang, dia dulunya jadi TBO ( Tenaga Bantuan Operasional ) semancam penunjuk jalan di hutan waktu di Timor Leste. Harapan kami ada keterusterangan antara Indonesia dan Timor Leste agar anak yang terpisah dari keluarga bisa ketemu keluarga mereka kembali, soal dia mau tinggal di mana itu pilihan tapi Indonesia wajib mempertemukan mereka dengan keluarganya di Timor Leste.”