LUKA KEMANUSIAAN DI TIMOR LESTE

 

Kesaksian Domingos Pinto de Araújo Moniz

 

 


 


Domingos Pinto de Araújo Moniz, biasa disebut Atai, lahir di Dili pada tanggal 26 Agustus 1962, sekarang telah berkeluarga dan punya 6 orang anak, tinggal di Santa Cruz, Dili, pekerjaan sebagai tenaga administrasi honorer di Universitas Timor Oriental (Unital) Dili. Atai merupakan salah seorang korban dan saksi dari penangkapan dan pena­hanan sewenang-wenang aparat ABRI/ TNI sewaktu invasi dan pendudukan di Timor-Leste. Sewaktu ABRI/TNI menginvasi Timor-Timur pada tanggal 7 Desember 1975, Atai masih berumur 13 tahun ikut mengungsi ke hutan bersama keluarganya.

 

“Pada hari Minggu tanggal 7 Desember ‘75, setelah invasi TNI ke Timor Leste, saya bersama keluarga lari ke hutan kurang lebih 3 tahun. Selama di hutan saya bergabung di organisasi Kepemudaan Timor Leste kurang lebih satu tahun. Di hutan saya punya misi membantu pendidikan untuk orang yang tidak bisa menulis dan mengajar orang agar bisa menyanyi, dengan dasar ini saya sebagai komposer lagu di Timor Leste sekarang. Setelah kurang lebih 3 tahun di hutan, tanggal 18 September tahun ’78, saya bersama masyarakat, 300 orang, ditangkap TNI 721 Sulawesi Selatan di wilayah Natarbora. Kami dibawa ke Kecamatan Soibada dan dilanjutkan ke Laclubar. Tiba di Laclubar, sore hari kami disuruh tidur.

 

Sekitar jam 11 malam, seorang hansip masuk ke tempat kami tidur memanggil kami satu-satu. Saya dengan empat orang teman, tiga orang dewasa, saya waktu itu 16 tahun, dan satu lagi teman seumur saya, kami dibawa ke Koramil untuk merebus jangung. Selama interogasi kami disiksa, kaki ditendang. Saya diinterogasi berulangkali. Saya baru sadar kenapa saya dipanggil karena kakak saya menjadi komandan kelompok region Manatutu di hutan pada waktu itu.

 

Pada tanggal 8 November 1978, saya dibawa ke Dili bersama orang tua dan diharuskan mendaftar di Koramil Dili Timur-Becora. Sebagai tahanan luar selama 6 bulan, melapor setiap senin, dan tidak boleh kemana-mana. Setiap Senin kami disuruh membersi­hkan WC, pagar, lalu disuruh menyanyi Indonesia Raya. Kalau tidak hafal teks kaki diinjaknya. Mulai tahun ‘78-80, situasi di Dili setiap malam terjadi penangkapan besar-besaran termasuk kakak saya yang nomor 4, dia dipukul dan mati dalam penjara Balide. Waktu diminta Pastor untuk diserahkan kepada keluarga, intel tidak mau. Pada saat itu kami mendapat surat dari Fraksi DPRD AURI, bahwa orang-orang yang keluarganya masih di hutan akan dibunuh tujuh turunan. Masyarakat kaget dan tak sabar lagi, setiap malam ada penangkapan, ada yang dibunuh, ada yang disiksa sampai mati.

 

Pada 17 Juni ‘80 disebut Peristiwa Marabia, disitulah Falintil menghadang Pos Brimob, Filentil mati satu orang dan brimob satu orang. Setelah Falentil serang Pos Brimob, pagi harinya masyarakat di sekitar bukit disuruh turun ke kota. CAVR mencatat setidaknya 121 nama-nama orang yang dibunuh, dihilangkan atau meninggal dalam tahanan. Penangkapan ini kebanyakan terjadi di Dili, namun juga ke kabupaten-kabupaten sekitar. Dari asosiasi korban Timor Leste sekarang kami mencatat ulang sekitar 75 nama orang yang hilang. Kakak saya nomor dua hilang sampai sekarang tidak tahu di mana. Mulai dari hari itu penangkapan semakin menambah.

 

Pada 22 Juni malam, Saya bersama tiga orang satu perempuan dan dua laki ditangkap oleh Korem dan Kodim 1627 Dili, kami disiksa dan diangkut ke Kodim 1627 Dili. Saya ditahan selama satu malam, pada sore hari mereka melepaskan saya, tetapi diwajibkan lapor setiap hari di Kodim 1627 Dili selama satu minggu (30 Juni 1980), sambil menunggu keberangkatan ke Atauro. Berhubung kondisi kapal yang akan mengangkut saya dan yang lain ke Atauro penuh maka kami tidak jadi berangkat. Kemudian saya dan yang lain dilepas kembali tetapi kami diwajibkan melaporkan diri setiap hari Senin selama satu tahun lebih, mulai dari satu 1 Juli 1980 sampai 17 Agustus 1981. Setiap hari satu kelompok terdiri dari 100 orang yang harus lapor ke Koramil Dili Timur-Becora. Jadi total ada 600 orang yang wajib lapor. Selama proses wajib lapor ini, kami disuruh membersihkan kantor Koramil mulai dari ruang kerja, wc, halaman dan membuat pagar dengan kayu dan melatih nyanyi lagu Indonesia Raya. Bila kami tidak hafal tesksnya kami diteror dan diancam akan dibunuh.

 

Satu hari 9 orang (8 laki-laki dan 1 orang perempuan) dari kelompok saya yang 100 orang disuruh ke Hera dengan alasan memotong pohon, tetapi mereka tidak pernah kembali sampai sekarang. Kemudian saya balik ke rumah hidup sebagai masyarakat biasa. Pada tanggal 5 April 1982, saya disuruh Ibu pergi ke Marcado Lama (pasar), tahu-tahu di Marcado dihadang hansip dan intelijen, saya bilang, “Minta maaf ada apa?” dia bilang, “Mau melawan?” Saya dipukul, ditendang di muka umum, saya ditarik masuk Polres Dili, dekat Marcado Lama, saya ditahan dua malam, bukan polisi yang interogasi tapi preman, polisi bilang kami amankan saja, 2 hari interogasi, disiksa, lalu disuruh cuci mobil dan siram bunga. Banyak penyiksaan lain yang saya alami.