“MAU APA KAU, MAU MATI?” KATA TENTARA

 

Kesaksian Tikamariah Usman

 

 


 

Tikamariah Usman alias Ma Putroe, lahir di Binjee tanggal 1 Juli 1965. Ia dan suami, Bapak Usman, ting­gal di kampung Sidomulyo Kecamatan Buloh Blang Ara, Kabupaten Aceh Utara. Sekarang ini Ma Putroe tinggal di Dusun Drien kawan, Desa Alue Papuen, Kecamatan Nisam Antara, Kabupaten Aceh Utara, Aceh. Pada Tahun 1990, ketika Aceh seba­gai Daerah Operasi Militer ( DOM ), Ma Putroe bersama suaminya ditangkap oleh Kopassus saat keduanya kembali ke rumah setelah selesai berbelanja. Mereka mendapat siksaan karena dituduh ikut membantu Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Mereka akhirnya dibebaskan karena tidak terbukti membantu GAM.

 

“Hari Sabtu-Minggu kita jualan, habis itu hari senin kita [saya] ke pasar, belanja. Pulang hari Senin ke rumah, tahu-tahu Kopassus sudah ada di rumah. Pikir aku siapa itu, mobil sudah ada di rumah.

“Dari mana bu?” tanya mereka, “pulang dari pasar,” jawabku. “Ibu ke sini dulu, naiklah aku ke mobil.” Abis tu dibawa ke tanah lapang dekat rumah sekolah. Abis itu duduk aku di situ di mobil, dijemput lagi laki [suami] aku di rumah sama orang lain. Tahu-tahu kita dibawa tanpa ditanya apapun, sampe di tempat dekat sungai, kita disepak, rambut ditarik, laki saya ditarik disepak dimasukkan ke gorong-gorong, aku disuruh ganti di belakang.

 

“Kita tak mau coba Bapak dulu kalau abis sampe di belakang situ aku gantian,” kataku.

“Anjing lu memang dasar babi ko,” jawab Kopassus.

“Aku babi Pak, Bapak itu babi juga karena bilang aku babi.” kataku.

 

Aku ditendang terus sampe muntah dan tak bisa bicara lagi, dihantam senjata di kepala, anting putus hilang semua. Aku bukan orang lagi, aku perempuan. Aku dipegang, baju koyak dan biar ngaku. Apa yang mau aku ngaku orang tidak salah. Abis itu diikat dibawa ke sungai dilempar ke sungai biar kedinginan, biar ngaku orang mau ngaku apa orang tidak tahu salahnya. Kita dipendam di air nggak bisa kita berenang, takut ada lintah bukan takut senjata, sama senjata satu aja udah mati sama lintah tidak mati. Lalu mereka bilang, “Ditolak lagi biar takut, biar mampus.” Suami saya ditarik, dipukul-pukul, aku karena pingsan maka ditarik lagi dari dalam air.

 

Lalu dibawa ke beberapa tempat penahanan dan penyiksaan seperti kantor Koramil [Buloh Blang Ara], dan ke Kantor Kodim [Lhokseumawe). Laki saya entah ke mana dibawa, ke Kodim entah taruh di mana, Pedih kita orang perempuan selama 7 hari rasanya 7 tahun, makan tidak karena kita nggak senang dikerjain seperti itu. Abis itu udah 7 hari Aku di situ dibawa ke Koramil lagi dimaki-maki lagi, “Enak kau ya udah sampai Kodim sudah ada pelindung kau Kodim, Pak Aswi.”

 

Tahun 2003, diambil lagi laki saya dari rumah di Bintang-bintang, dibawa entah kemana, cari hampir 2 bulan tak dapat. Cari lagi biar dapat, sore jam 5 sudah dapat di Rudal [Denrudal Arhanud 001 Pulo Rungkom], tunggu aku di situ, karena ada kabar bahwa ada 8 orang ditahan di tempat itu. Pura-pura cari obat di rumah sakit. Aku bilang cari obat untuk orang tua di rumah. Jam 5 [sore] dikeluarkan 8 orang itu, dia sapu sampah dan buang ke pokok bambu. Aku terus pulang, mau jumpa sama Pak Rusli (Danramil Bulo Brang Ara).

 

Aku bilang, “Bagaimana itu laki kita sudah di Rudal?

“Siapa bilang?” tanya Pak Rusli.

“Bukan bilang Pak, saya lihat sendiri.”

 

Dia menyuruh saya pergi ke Kopassus, minta bantuan Kopasus. Kita sendiri pergi ke Kopassus, nekat padahal takut sekali. Sampe di Kopassus, aku ditanya, “Kemana Engkau?”

“Mau minta bantuan Bapak,” jawabku.

“Kau enak saja kalau ada apa minta bantu kalau kami minta bantu, kemana?”

Mungkin karena aku udah nangis di situ, abis itu oleh Kopassus bilang, “Kalau ada di Rudal, kalau tidak ada kita minta ganti sama Ibu? Ini disuruh dengar, katanya tidak ada.”

Saya bilang, “Ada karena sudah lihat sendiri.”

Kopassus telpon lagi, “Kalau ada bilang ada kalau tidak ada bilang tidak ada karena sudah lihat sendiri bininya.”

Abis itu telpon lagi, “Bisa jam 8 datang lagi kemari jumpa sama lakinya.”

 

Aku pulang ke rumah, besok Kopassus bilang pergi saja ke Kodim, di tempat tahanan. Terus minta bantuan bini Pak Rusli, Danramil. Pergi kita sama-sama beliau. Lalu kita pulang ke rumah. Lalu datang lagi aparat ke rumah, tanya, “Mana itu laki kamu, mana laki kamu pigi mana, ke ladang? Apa orang GAM?” Masa tanya begitu kita kan bukan orang GAM, masuk ke rumah orang dan bilang, “Tika ayolah sama kami biar duduk -duduk kita berdua.” Sampe masuk dia ke dalam, yang lain di luar, didempet aku ke dinding, minta yang enak-enak katanya, aku lawan orang itu, kugigit tangan dia, ditendang aku sampe gigi ompong, tidak takut aku. Laki sudah diambil, masa ditanya-tanya lagi?

 

Abis itu rumah saya dibakar sama orang itu, karena kita orang jualan bukan orang tani dipukul kita seenak-enaknya. Ada anak yang kita pelihara diambil juga entah di mana sekarang, Aku dibawa lagi ke pos dipukul, ditaruh di lubang, disuruh ngucap biar mampus. Tambah takut aku mau disembelih, Aku dibawa ke belakang ditaruh di lobang, mau apa kau? Mau mati? Saya tutup muka ditembak mati, aku nggak apa. Tidak ditembak. Datang lagi orang lain, ada bawa kuping orang ditaruh di tali, dia bilang, “Ini kuping iki? coba liat dulu, ini kuping siapa? (Tentara bicara dalam bahasa Jawa)