ORANG TERKORBANKAN OLEH NEGARA MASIH TERLANTAR

 

Kesaksian Murtala

 

 


Murtala lahir pada 12 Desember 1970 di Paloh Lada, Aceh. Ia merupakan salah seorang korban penganiayaan dan pemukulan dalam peristiwa Simpang KKA. Murtala kemudian aktif dalam organisasi korban dan menjadi koordinator K2HAU, sebuah organisasi korban di Aceh.

 

Pada tanggal 3 Mei 1999, sebuah insiden penembakan yang dilakukan oleh aparat TNI dan Den Rudal 001 serta Yonif 113 Aceh Utara terhadap masyarakat. Insiden tersebut terjadi di Simpang KKA Krueng Geukueh, Kecamatan Dewantara, Aceh Utara. Dalam peristiwa tersebut sebanyak 39 warga meninggal, 156 luka-luka, 10 orang dinyatakan hilang dan ratusan orang mengalami trauma.

 

Peristiwa Simpang KKA awalnya dipicu oleh ‘isu hilangnya’ anggota TNI, Aditiya Rahmadan dari Detasemen Rudal 001/ Lilawangsa pada 30 April 1999 ketika tengah menyusup ke acara ceramah agama pada peringatan 1 Muharam yang diselenggarakan warga Cot Murong. Hilangnya anggota tersebut kemudian disikapi oleh anggota pasukan militer dari Detasemen Rudal dengan melakukan penyisiran ke rumah-rumah warga. Saat pencarian, aparat melakukan kekerasan yang mengakibatkan sekitar 20 orang warga mengalami kekerasan; dipukul, ditendang dan diancam. Tidak terima dengan tindakan aparat, warga melakukan aksi protes di Simpang KKA. Tapi aksi protes warga juga disikapi oleh aparat TNI satuan Detasemen Rudal 001/Lilawangsa dan Yonif 113/Jaya Sakti dengan memberondong senjata ke arah warga di Simpang KKA.

 

Hari Senin, 3 Mei 1999, saya tidak masuk kerja karena perayaan 50 hari kelahiran anak. Saya pergi ke tempat salah satu kawan, kemudian mau ke pasar beli keperluan rumah.  Di saat pergi, saya lihat banyak truk dan sepeda motor, saya penasaran sampai di depan lapangan bola saya lihat massa banyak sekali, orang tua, anak-anak, perempuan sudah berkumpul. Saya batal pergi ke pasar karena takut, sebentar lihat dan pulang. Sepanjang jalan dirintangi drum dan kayu. Saya dengar orang berteriak menuju ke Simpang KKA, yang berjarak sekitar 1 kilometer dari rumah. Kita lihat truk militer [Yonif] 113 di sebelah barat dan ada kios-kios kecil, saya melihat Camat Dewantara, Drs.Marzuki dan juga Koramil Dewantara, Kapten Muhammad Jafar.

 

Pak Camat naik ke truk untuk bicara, warga menolak membubarkan diri dan menuntut Muspika Dewantara untuk menghadirkan Bupati, Kapolres, Danrem Lhokseumawe. Pada jam 12 siang lewat dikit azan berkumandang, lalu saya turun pergi sholat ke rumah Pak Jusuf. Setelah sholat orang semakin berjubel, lantas saya bergabung lagi dengan Pak Camat. Saya lihat tentara pake baret hijau lari ke semak, seiring itu dari arah selatan mobil datang dan pas di persimpagan mobil berhenti, lalu militer di dalam mobil ke samping sambil mengendap dan mendekat. Kemudian datang batu ke arah kerumunan massa, massa membalas lalu terdengar dua kali tembakan, lalu tembakan berikut tak berhenti. Tentara [Yonif] 113 ada yang duduk, jongkok dan tiarap, katanya.

 

Saya berusaha merangkak di bawah truk militer, mau lari, dipukul di dada dengan senjata sampai terjatuh, lalu bangun dan dipukul lagi di punggung. Saya sempat lihat beberapa orang terjatuh mengeluarkan darah di depan Saya. Saya lihat kios perabot, saya masuk ke situ. Saya dibawa oleh masyarakat ke Rumah Sakit PT. PIM. Kemudian Dokter yang memberi pertolongan pertama memanggil keluarga saya agar dapat merujuk segera ke Rumah Sakit Umum Lhokseumawe, karena menurut hasil diagnosa saya harus segera dibawa ke Lhokseumawe untuk perawatan lebih intensif akibat benturan benda tumpul, [popor senjata di bagian tengkuk].

 

Selama tiga hari tiga malam saya tidak sadarkan diri, baru pada hari keempat saya baru sadar kalau saya dirawat di Rumah Sakit Umum Lhokseumawe. Pada saat itulah saya melihat banyak orang yang terbaring di koridor, di ruang tunggu, ruang perawatan, hingga ruang konsultasi dokter, puluhan orang merintih tertunduk dan terbaring berdesakan. Semuanya dengan wajah pucat menahan sakit dari luka tembak ditubuhnya, jarang saya mendengar yang menangis, hanya ayat-ayat Al-Qur’an dan Takbir yang terdengar lirih.

 

 


Dalam MOU Helsinski ada poin tentang pengadilan HAM yang belum terjawab sampai sekarang. Saya sebagai konselor, menangani korban yang mengalami tekanan batin, apa yang mereka alami pelan-pelan mereka ceritakan, mereka ingin reparasi dini, anak-anak yang tidak bisa sekolah, ekonomi korban hari ini seperti Ibu Nurhayati, untuk membiayai sekolah anak, proses pengobatan memang ada program pemerintah pengobatan dan pemberdayaan anak yatim, kenapa tidak ada kekhususan untuk orang yang terkorbankan oleh negara.

 

Ada korban yang memaafkan tapi tidak lupa, ada korban yang mau melalui proses pengadilan. Kita memaafkan, tapi tidak untuk melupakan. Saya harap Pemerintah dan kita semua [disini] termasuk korban, jangan pernah berhenti mencari keadilan dan berjuang bukan dengan senjata. Terhadap peristiwa Simpang KKA, pada tahun 2000 telah dilakukan penyelidikan dan pengkajian oleh Komisi Independen Pengusutan Tindak Kekerasan di Aceh yang dibentuk melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 88/1999.

 

Dalam laporannya, komisi menyebutkan sebanyak 39 warga sipil tewas (termasuk seorang anak berusia 7 tahun), 156 sipil mengalami luka tembak dan sekitar 10 warga sipil dinyatakan hilang. Sedangkan pihak yang diduga sebagai penanggung jawab atau pelaku penembakan adalah Kol. Inf. Jhony Wahab (mantan Danrem Lilawangsa), Komandan Yonif 113/Jaya Sakti Letkol Inf Bambang Haryana, Komandan Detasemen Rudal 011/1 Mayor Art Santun Pakpahan, Danki Den Rudal Letnan Art Ismail dan Danru masing-masing pasukan.