KANDUNGAN KAMI TIDAK MAMPU UNTUK MELAHIRKAN ANAK

 

Kesaksian Tineke Rumkabu

 

Tineke Rumkabu adalah salah seorang saksi mata dan korban penyiksaan seksual dalam Peristiwa Pengibaran Bendera Bintang Kejora di Biak Juli 1998. Ibu Tineke Rumkabu menceritakan pengalamannya di tahanan yang mengalami penyiksaan seksual oleh tentara.

 

“Pada awal Juli 1998, sekelompok orang menaikkan bendera Bintang Kejora di menara (tower) air dekat pelabuhan kota Biak. Banyak warga masyarakat berkumpul, berdoa, dan menyanyikan lagu-lagu gerejani dari tanggal 2-5 Juli.

Pada tanggal 6 Juli, saya dan warga yang berkumpul diserang oleh gabungan TNI dan Polisi Brimob. Kami berpendapat bahwa di masa reformasi ini adalah waktu yang tepat untuk menyatakan keinginan kami untuk merdeka.

 

Tetapi tepat 6 Juli jam 5 subuh, terjadi penyerangan terhadap kelompok yang berada di bawah tower. Kami mama-mama selalu menyiapkan makan dan minum untuk anak kami yang ada di bawah tower itu. Pagi jam 5, saya dengan teman mengantar kue, teman pegang ceret dan saya juga pegang ceret isi kopi dan kue di kardus. Kami sementara berjalan sampai di jalan Penas dekat tower, tiba-tiba kami disergap oleh tentara yang di leher pakai pita merah topi daun-daun muka dicoreng sampai kelihatan hitam lalu mereka mendekati kami dan rampas ceret dan siram kopi yang begitu panas dari kepala, saya dipukul dengan popor senjata dari belakang dan jatuh lalu diinjak di perut. Saya teriak, “Tuhan tolong!”lalu seorang tentara bilang begini, “Silahkan panggil Tuhan Yesus yang beberapa hari tolong kamu biar Dia bantu kamu. ”Lalu saya diseret beberapa meter ke arah toko Aru. Ada temannya tentara, dia suruh lari dan bilang, “Ibu lari pas saya tembak, kita seiman.

 

”Saya lari ke arah komplek Perumahan Kesehatan, ada barak di situ, saya tahu di situ ada keluarga lalu di belakang rumah mereka ada lubang pembuangan. Saya lari menuju tempat, kebetulan teman yang ada sama-sama juga lari ke tempat itu. Kami sama-sama sembunyi tapi tidak bertahan karena ketakutan lalu kami masuk dalam rumah. Pakaian kami sudah sobek karena ditarik-tarik, kebetulan dalam rumah ada daster dan kami ganti lalu pura-pura pegang keranjang dan ke pasar. Saat kami keluar, di luar sudah ada truk kuning, Saya bilang teman, “Kamu lari biar selamat.” Saya lalu ditarik oleh tentara, diikat mata dengan kain lalu dilempar ke dalam truk. Waktu jatuh dalam truk rasanya jatuh di atas orang yang sudah dalam mobil.

 

Saya dibawa ke suatu tempat, di mana orang teriak seperti dalam satu ruangan. Saya dengar perempuan laki teriak, “Tuhan tolong-tolong.” Lalu kita punya pakaian dibuka semua kasih telanjang dan diborgol tapi dalam keadaan telanjang. Lalu tentara bakar lilin dan masukan ke dalam vagina. Rasanya pedis, “Buka mata lihat teman-teman kamu sudah mati, sebentar lagi kamu mati.”  Tentara juga menyiksa saya dengan melukai kemaluannya dengan sangkur. Ada juga perempuan lain yang payudaranya dipotong. Berbagai jenis penyiksaan dialami olehSaya dan teman-teman. Akhirnya Saya dan teman-teman diselamatkan oleh seseorang yang juga tentara dan berhasil melarikan diri ke hutan. Saya tiga bulan di hutan, tanggal 3 September dipanggil ke kantor polisi untuk lapor. Tapi tidak lanjutkan lapor karena sudah sakit pendarahan.

 

Pengalaman ini membuat suami saya tidak senang dengan saya. Tiap hari bentrok dalam keluarga sampai saya tidak bisa bertahan, akhirnya saya lari dari rumah ke Jayapura atau tempat lain untuk tenang dengan teman-teman aktivis perempuan. Pernah kejadian suami pukul saya, lukanya harus dijahit 6 jahitan. Saya lapor polisi tapi polisi tidak mau urus.Saya sudah pisah dengan suami dan anak.

 

Harapan saya, pengalaman ini jangan terulang lagi terhadap perempuan secara umum dan perempuan di Papua khususnya. Sudah cukup kami dilahirkan untuk disembelih dan dibunuh seperti binatang. Kandungan kami tidak mampu untuk melahirkan anak yang akan terus dibunuh dan dibantai seperti binatang.