SAYA MEMULAI HIDUP DARI NOL LAGI

 

Kesaksian Ainon Mardiah

 

Ibu Ainon Mardiah lahir di Kuala Simpang, Aceh, pada tahun 1978. Ayahnya seorang mantan anggota TNI. Pada tahun 1993, keluarga Ainon Mardiah pindah ke pemukiman baru (transmigrasi lokal) di daerah Alue

Rambe, Aceh Utara. Karena letak rumahnya yang jauh dari sekolah, Ainon tidak melanjutkan pendidikannya. Pada usia 15 tahun, Ainon menikah dengan lelaki yang juga tetangga di Alue Rambe. Pada tahun 2002 adiknya ditembak tentara. Ainon juga mengalami penyiksaan dari Kopassus karena dianggap tidak memberitahu keberadaan suaminya yang dituduh sebagai anggota GAM. Mulai tahun 2003, Kopassus kerap datang ke rumahnya dan menyiksa Ayahnya yang dianggap bertanggung jawab mengetahui keberadaan warga desa yang menjadi anggota GAM,karena posisinya sebagai kepala kampong.

 

“Pada April 2004 datang kesatuan 112 Komandan Edji Braka ke rumah, saya dibawa ke Pos Simpang Lima 112. Jam 3 sore, mulai diinterogasi, menanya suami saya dan teman suami. Saya jawab, “Tidak tahu,” Saya ditampar berpuluh-puluh kali, sehingga pipi saya bengkak. Mereka memukul kepala saya dengan topi baja dan salah satu menendang saya. Penyiksaan berlangsung sampai jam 8 malam. Jam 8 malam mata ditutup dan tangan diikat dengan kabel dan dibawa entah ke mana. Mereka tanya keberadaan suami di mana dan teman suami di mana, mereka ancam bunuh saya.

 

Mereka gali lobang dan bilang itu lobang kuburan saya. Mereka lalu menancapkan senjata laras panjang di telinga kiri dan kanan dan suruh saya mengucap. Kemudian terdengar suara letusan. Saya tidak tahu suara letusan apa, saya pingsan. Jam empat pagi, saya sadar dan mereka tanya makan saur atau tidak. Saya bilang bagaimana saya makan kalau mata ditutup, lalu mereka buka penutup mata. Mereka kemudian ajak saya mencari markas GAM. Saya bilang tidak tahu karena GAM bergerilya. Di dalam pos, anak buah mereka menarik saya, memeluk sampai baju saya koyak, mereka mau perkosa saya. Saya berteriak sekuatnya, “Pak Edji Barka anak buah Bapak mau perkosa saya,” Pak Edji Barka menjawab, “Alah kamu mau dikasih enak aja menjerit,” lalu saya katakan, “Bapak orang berpendidikan tapi harga dirinya nol, saya tidak punya pendidikan tapi saya punya harga diri.”

Lalu Pak Edji memukul anak buahnya yang menggangu saya.

 

Setelah tujuh hari di Pos 112 saya dibawa ke SGI [di Buloh Blang Ara] di situ saya disetrum, lalu seorang di antara mereka meremas payudara saya ekuat-kuatnya. Tiga hari di SGI, Saya dibawa ke Kuala Simpang dan tidak boleh kembali ke kampung. Saya di Kuala Simpang disuruh tetap komunikasi dengan mereka, berpindah dari satu rumah saudara ke rumah saudara lain karena tidak punya apa-apa. Ketika Kampung Alue Rambe dikuasai TNI, tidak ada laki-laki remaja dan dewasa yang berada di Kampung. TNI membuat kemp di atas perbukitan, di bawahnya adalah alur tempat perempuan mandi dan mencuci. Kami sering diminta mencuci pakaian mereka. Mereka mengatakan semua bentuk tubuh perempuan Kampung Alue Rambe sudah mereka ketahui, karena mereka mengintai kami mandi dan mencuci di alur ini. Kami juga dibatasi untuk keluar dari Kampung. Dalam satu hari hanya boleh 3 orang yang bepergian ke pasar. Sebelum ke pasar kami digeledah di Pos 112 Simpang Limeng, harus menitipkan KTP. Ketika pulang dari pasar kami harus kembali melapor ke pos, belanja kami dijatah, kami hanya bisa membeli beras untuk keperluan 3 hari, katanya tidak boleh lebih nanti dikasih ke GAM.

 

Saya kembali ke Kampung Alue Rambe setelah Penandatanganan Damai pada tahun 2005. Saya memulai hidup dari nol lagi karena seluruh harta benda saya hilang dan rumah saya sudah rusak. Saya ingin perempuan yang tidak bersalah jangan diperlakukan begitu. Saya harap tidak adalagi tindak kekerasan terhadap perempuan di Aceh.