SAYA TIDAK TAHU AYAH BAYI YANG SAYA KANDUNG

 

Kesaksian Maria de Fatima

 

Maria de Fatima adalah seorang survivor yang menjadi budak seks tentara Indonesia ketika menjajah Timor Leste. Peristiwa yang dialami oleh Maria de Fatima berlangsung di Hotel Flamboyan Baucau Timor Timur. Maria de Fatima, menceritakan pengalamannya dalam sebuah film dokumenter.

 

“Para tentara membawa saya melalui jalan ini, mereka menarik saya masuk melalui tempat ini. Ini adalah penjara para para perempuan & laki-laki yang ditahan bersama-sama. Tentara membawa saya keluar melalui pintu ini untuk diinterogasi, kemudian mereka meyerahkan saya kepada mereka yang di bawah (Hotel Flamboyan yang dijadikan penjara ini punya dua lantai).

 

Di tempat ini kami berdua duduk di lantai sambil menatap satu sama lain, satu persatu tentara masuk sambil melihat kami. Mereka membawa kami ke tempat ini untuk diinterogasi sambil menginjak kaki

kami, sambil bertanya, “Kamu GPK?” Saya menjawab, “Tidak.” Mereka bertanya lagi, “Kakak kamu ada di hutan?” Saya menjawab, “ Ya, kakak saya memang ada di hutan. Dia melarikan diri ke hutan

waktu dia masih berada di Dili.”

 

Bila para Komandan ingin berhubungan seks dengan kami, mereka menarik kami ke kamar lain. Mereka membawa pepsodent dan sabun dan menyuruh saya mandi. Setelah para komandan tidur dengan

saya, kemudian mereka menyerahkan saya kepada prajurit di kamar lain. Terkadang kami tidak tidur hanya dengan seorang perwira, tapi dengan banyak orang. Lampu dimatikan semua. Tidak tahu semua yang masuk. Saya dengar teman tahanan berteriak karena kesakitan akibat diinterogasi, saya dan teman saya hanya diam tidak bisa buat apa-apa.Bila terdengar oleh tentara kami bicara, tentara akan membawa kabel listrik untuk strom kepada tubuh kami, maka kami pasrah dan diam.

 

Pada saat diinterogasi kami harus mengatakan yang sebenarnya, bila berbicara / mengakatan salah maka kaki kami diinjak. Kadang ada tentara yang baik ketika melakukan interogasi dan kadang ada tentara yang brutal, terlebih bila ada teman mereka yang meninggal pada saat perang di hutan.

 

Di sini kami disiksa dan dipukuli oleh para prajurit. Mereka melempar kami ke lantai. Kami merayap untuk disuruh mandi, baju kami dilepas. Setelah satu keluar kemudian akan datang yang lain. Kami hanya di lantai semen, hanya menangis. Hanya bisa pasrah. Mereka menelanjangi (lagi) kami. Jika kami menolak, mereka akan terus memaksa. Kami menangis dan berpelukan.

 

Ketika saya merasakan mengandung, saya tak bisa berbuat banyak. Saya tak bisa menuntut, karena mereka banyak. Mereka berganti-ganti. Saya tak tahu persis siapa ayah dari anak yang saya kandung itu. Dengan kondisi itu saya pasrah saja. Saya tak pernah punya pikiran untuk dendam pada anak yang saya kandung. Tidak juga mau menggugurkannya. Saya tetap mencintai, meskipun dia ada di rahim saya tanpa hubungan resmi. Saya tidak pernah bepikir jahat terhadap anak-anak saya. Biarkan mereka hidup. Menjahit, merajut, dari sana saya menghidupi mereka (waktu itu).

 

Saya pun tidak menaruh dendam pada orang lain. Saya tetap memberi mereka makan, mendidik mereka sampai sekarang.

 

CAVR mencatat setidaknya 30 orang perempuan yang ditahan di Hotel Flamboyan, hampir sepertiganya mengalami perkosaan, antara tahun 1975-1986. Para korban menyebutkan pelaku-pelaku perkosaan dari berbagai kesatuan ABRI, termasuk: Yonif 330, Yonif 745, Komando Pasukan Sandhi Yudha (Kopassandha). Komandan ABRI pertama di Hotel Flamboyan adalah seorang komandan Kopassandha bernama Mayor Leo, Nanggala (nama

sandi untuk satu kesatuan Kopassandha yang ditugaskan di Timor-Timur pada 1975-1983), Umi (salah satu dari empat kesatuan Nanggala yang ditugaskan di Timor-Timur yang dinamakan sesuai dengan sandi panggilan radionya), Batalyon Artileri Medan (Yon Armed) 13, Polisi Militer (Pom), Brigade Mobil (Brimob) Polri, Brigade Infanteri (terdiri dari tiga batalyon), Hansip.

 

Sampai dengan tahun 1999 Hotel Flamboyan digunakan sebagai barak, dan untuk acara-acara khusus yang diselenggarakan oleh tentara Indonesia.