KEJAMNYA PEMERINTAH ORBA KEPADA KAMI

 

Kesaksian Christina Sumarmiati

 

Christina Sumarmiati biasa dipanggil Ibu Mamiek, usia 68 tahun. Di tahun 1965 ia adalah mahasiswa IKIP Jogja, anggota Perhimpunan Mahasiswa Katholik Indonesia (PMKRI), yang merangkap menjadi guru di sebuah SD. Ia pernah menjadi anggota Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia ( IPPI) ketika masih di sekolah menengah. Ia ditangkap berulang kali, ditahan di beberapa tempat pernahanan, mengalami siksaan fisik dan kekerasan seksual yang dilakukan

oleh militer di markas CPM Yogyakarta.

 

“Pada waktu tahun ’65, Saya lulus SPG dan masuk IKIP Yogyakarta. Saya ang­gota Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia. Di dalam kemahasiswaan, Saya berga­bung dengan Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia. Pada bulan Desember, saya diciduk dan dimasukan dalam penjara. Saya curhat pada seorang Romo, kalau saya anggota PMKRI, “Romo, Saya mohon dibebaskan saya tidak terlibat PKI, Saya tidak tahu apa itu PKI.”

 

Pada April tahun ’66, saya bebas, lalu melanjutkan kuliah. Ayah dipenjara karena anggota BTI, Saya lalu melamar sebagai Guru SD, awalnya ditempatkan di Gunung Kidul, tetapi setelah menemui kepala penempatan kerja dan meminta agar bisa ditempatkan di SD yang dekat dengan kampus. Dua tahun mengajar dan menjadi mahasiswa itu pekerjaan tidak ringan, kalau malam mempersiapkan pelajaran mengajar dan kuliah. Pada tahun ‘68 jam 2 pagi, saya ditangkap lagi. Mereka geledah rumah. Di rumah itu saya simpan surat pembebasan pertama, lalu mereka marah karena menyembunyikan kalau saya anggota IPPI.

 

Dalam pemeriksaan saya ditenjangi Di atas meja itu, bulu kemaluan dan rambut kepala saya dibakar. Saya pingsan dan setelah sadar, saya digelandang ke [penjara] CPM Yogya pada jam empat pagi.Saya dimasukan di dalam sel dan diborgol bersama satu borgol dengan seorang laki-laki. Hari kedua, diperiksa berdua, mereka bilang mau mengaku atau tidak kalau kalian ini gerpol dan dipaksa mengaku sebagai PKI . Mereka menelanjangi saya dan laki-laki itu juga ditelanjangi. Saya disuruh berpangkuan dalam keadaan telanjang atau mengaku. Saya kemudian diangkat dan dipangkukan dengan laki-laki tersebut dalam posisi berhubungan seks. Mereka tertawa dengan puasnya.

 

Saya lalu dipindah ke Wirogunan di tahanan perempuan bersama ibu yang lain. Kami di Wirogunan untuk memperoleh kesembuhan dan selang beberapa hari setelah keadaan lebih baik saya dipanggil kembali. Selama di Wirogunan saya sering dibon oleh CPM untuk diperiksa. Satu saat dipanggil kembali, dipaksa mengaku melakukan Gerilya Politik (Gerpo). Dalam pemeriksaan itu saya menghadapi hal diluar batas kemanusiaan, Saya ditelanjangi lalu kepala saya ditekan dan disuruh mencium kelamin mereka satu persatu, delapan orang di dalam ruangan itu. Saya kehilangan semangat dan tak mampu berjalan, tapi mereka memaksakan lalu kemudian saya ditengkurapkan di tengah ruangan, rambut digunduli dan saya tidak mampu berbuat lain hanya memohon kekuatan pada Tuhan.

 

 

Tahun ‘71 saya dipindahkan ke kamp Plantungan bersama 500 ibu dari Tanah Jawa. Di Plantungan tidak ada lagi penyiksaan fisik tapi teror psikis. Kami dianggap manusia tidak bermoral, pemberontak. Kami tidak cocok dengan pembimbing mental di Plantungan, pembimbing menghamili tapol dan melahirkan 2 anak. Bagaimana kami bisa percaya pada pembimbing itu? Karena banyak hal yang tidak bisa kami terima akhirnya tahun ‘76 kami dibuang ke Penjara Bulu, Semarang karena dikatakan kami tidak bisa dibina oleh pembina. Tahun ‘78 dibebaskan.

 

Stigma yang dilekatkan pada tubuh perempuan tapol sangat menyiksa hati kami. Bagi kami stigma yang diderita perempuan tapol ‘65 identik kematian, namun kami sebagai umat beriman mohon kekuatan pada Tuhan karena tidak mungkin mohon pada pemerintah. Kami mencari jalan dengan kuasa Tuhan. Kebenaran yang kami inginkan kami simpan dalam dada dan sampaikan kepada masyarakat supaya bangsa ini mengerti bagaimana kejamnya pemerintah ORBA pada kami.