SAYA BILANG, “MEMANG ADA BATU DI KEPALA SAYA?”

 

Kesaksian Migelina Anthoneta Markus

 

Migelina Anthoneta Markus atau biasa disapa Oma Net lahir di Pisan, kabupaten Timor Tengah Selatan pada 27 Maret 1935. Ia merupakan keluarga korban sekaligus saksi mata dari aksi kekerasan tragedi gerakan anti-komunisme di Indonesia pada tahun 1965-1966. Ayah, ibu, kakak sulung, adik perempuan, dan saudara sepupu ibunya menjadi korban dari peristiwa itu. Mereka menjadi korban atas tuduhan terlibat dalam PKI dan Gerwani sekalipun pada faktanya mereka tidak terlibat. Akibat peristiwa itu, mereka mendapatkan tuduhan-tuduhan dari masyarakat dan adiknya hingga kini masih merasa trauma karena peristiwa itu.

 

Terima kasih, selamat pagi, salam sejahtera bagi kita sekalian yang hadir dalam mendengar kesaksian ini. Tragedi ‘65 memakan banyak korban jiwa di dalam keluarga, Papa, Kakak, Om sepupu 2 orang, keponakan 2 orang, dimana mereka? Saya tanya Pemerintah di mana peradilannya, sejak kapan mereka diadili dan keputusannya mana?

 

Terjadinya tragedi ‘65 membuat Ayah kami Michael Markus hingga sekarang hilang jejak, beliau adalah pejuang membangun bangsa dan negara di NTT, Pemerintah mengadili dan dimana pegadilan yang menetapkan beliau bersalah? Kalau dia mati di mana kuburannya, kalau dia hidup dimana dia ditahan? Kesakitan yang dalam tak dapat diobati. Pemerintah bertindak demi kepentingan sendiri dan masyarakat menjadi korban.

 

Ayah saya anggota DPRD dan berjuang untuk menaikkan bendera Merah Putih, dia dituduh Belanda sebagai mata-mata Jepang dan ketika [jaman] Jepang me­nahannya dengan tuduhan mata-mata Belanda. Sejauh mana melihat situasi dan kondisi yang diperjuangkan ayah saya demi kemerdekaan. Saat itu tahun 1965, Ayah saya sedang berobat di Surabaya, beliau pulang dalam perjalanan tiba di Kupang, tanggal 3 Oktober, beliau ditangkap dan dituduh anggota PKI dan Barisan Tani Indonesia. Pada 16 April tahun 1966, Ayah saya dinyatakan tidak ada lagi di penjara dan dibawa sampai hari ini tidak tahu ada di mana.

 

Kalau itu terjadi mana keadilan, bukti mana dia diadili dan kebenarannya mana? Kami minta tanggung jawab negara dan pemerintah yang telah bertindak di luar kemanusiaan. Papa saya bukan seekor binatang tapi seorang pejuang, dimana tanggung jawab anda sebagai pemerintah dimana keadilan.

 

Saya menyaksikan betapa kejamnya pemerintahan saat itu hanya bertindak demi kepentingan pribadi. Papa saya tidak makan uang sepeser pun dan ketika berhenti dari DPRD, dia diangkat

sebagai kepala Keuangan Kabupaten TTS [Timor Tengah Selatan] dan kemudian dia pensiun, ketika ditangkap sampai sekarang tidak ada pensiun padahal itu hak Ayah saya yang dipotong dari jerih pekerjaannya.

 

Saat terjadi tragedi 65 saya berusia 30 tahun, dan saat terjadi tragedi begitu sakit hati tapi saya berdoa, Tuhan beri saya kekuatan beri saya umur panjang sehingga satu ketika menyaksikan

kebenaran ini. Kekuatan datang karena doa dengan pergumulan. Banyak yang mencibir juga, ada tetangga dan sahabat tidak mendekatkan diri kepada kami. Saya punya adik dan mama juga ditahan dan saya berjuang agar mereka dibebaskan, saya datang ke Kodim.

 

Hanya doa membuat kami menjadi kuat dan mendekatkan diri pada Tuhan agar kami tegar. Adik saya sedang mengajar di Undana [Universitas Nusa Cendana, Kupang] ditangkap tahun ‘75 dan ditahan di bali selama 3 tahun, dituduh Gerwani. Tahun ‘65 bulan Desember, ibu kami  diangkat dari rumah di Soe padahal saya ada di rumah mau ke Kupang. Saya tanya semua orang tidak tahu, saya naik mobil. Sampai di Kupang tenyata beliau satu mobil dengan saya dan mereka tutup wajahnya sedemikian rupa sampai Saya tidak tahu kalau dia ada satu mobil dengan kami. Kemudian sampai di Kupang, Saya cari tahu ternyata dia ditahan di Lapangan Merdeka di Kota Kupang.

 

Bulan Januari ditahan di Kodim, Bulan Maret ditahan di penjara. Saya datang ke Kodim dan saya bilang saya siap mati demi Mama saya, kami ada karena Mama. Papa saya sudah tiada, siapa yang harus kami andalkan. Kami menghadap Kodim dan diikuti tentara, “Saya bilang tolong geser apa salah saya, saya minta kita naik pengadilan.” Kepala Kodim tanya, “Ibu mau apa?”. Saya bilang minta Mama dilepaskan, kalau ditahan saya minta Peradilan. Mama salah apa kalau dia terlibat Gerwani, apa salah Gerwani semua harus dengan pembuktian.”

 

Kepala Kodim bilang, “Ibu tanda tangan jaminan bahwa tidak akan terjadi apa-apa kalau Mama keluar,” Saya bilang, “Saya siap menjamin kalau Mama buat kejahatan bila perlu saya ditembak saat ini.” Setelah itu beliau dibebaskan dengan wajib lapor.

 

Saya bilang, “tidak ada wajib lapor karena dia salah apa? Pengadilan mana kalau tidak ada maka kami tidak wajib lapor.” Saya tanya ulang, “Apa buktinya? Sejak kapan dia diadili dan pengadilan memutuskan kesalahannya apa?” Dia masih mengatakan, “Ibu ini kepala batu,” Saya bilang memang ada batu di kepala saya.”

 

Mama saya dilepas tanpa peradilan dan tanpa lapor. Adik saya yang ditahan 3 tahun trauma sampai hari ini. Saya coba gali, dia bilang dari Bali ke Jakarta selalu diperiksa, ditelanjangi barangkali ada cap PKI, cap Gerwani atau tidak. Sehingga pergumulan saya hampir 50 tahun. Tuhan mendengar hari ini saya menyaksikan kebenaran tragedi ‘65 hanya rekayasa seorang untuk mendapatkan keuntungan bagi pribadinya. Hari ini saya menyaksikan pemerintah tidak adil dan tidak dapat dipercayai lagi. Bapa ibu besaudara semua khususnya pemuda masa kini saya himbau ketika anda menjadi pemimpin buat kebenaran dan nyatakan itu dalam masyarakat Indonesia demi bangsa. Mari belajar bertindak benar jangan jadi manusia yang tidak berakhlak tapi menjadi manusia membangun kebenaran biar ada kebenaran dan sukacita yang dikehendaki manusia yang punya nilai dan harga di depan Tuhan.

 

Kami berdiri di sini karena kuasa Tuhan namun betapa sakitnya. Bapa-mama sekalian lewat kesaksian kami, mari belajar dari tragedi 65.